Tampilkan postingan dengan label Kelas B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas B. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2016

Tugas 3 - Folklore Indonesia

Perjuangan Entong Gendut Melengkapi Sejarah Condet

Puji syukur senantiasa saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat, berkah, karuniah dan taufik hidayahNya, Saya sebagai penulis dapat menyelesaikan Tugas 3- Folklore Indonesia ini dengan keadaan baik walaupun diakui masih banyak kekurangan didalamnya. Dan tidak pula dilupakan ucapan terimakasih kepada bapak Drs. M.Shobirienur Rasyid selaku dosen mata kuliah sejarah indonesia yang telah memberikan tugas ini kepada saya.Saya sebagai penulis sangatlah berharap jikalau tugas ini dapat berguna dalam menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca mengenai sejarah – sejarah di Indonesia. 

Saya pun juga menyadari bahwa tugas yang saya buat ini masih terdapat kekurangan – kekurangan dan bisa dibilang jauh dari kata sempurna. Saya berharap adanya kesadaran dari para pembaca untuk memberikan saran, kritik yang membangun demi meningkatkan wawasan penulis dalam tugas yang akan dibuat diwaktu yang akan datang.

Saya harap tugas yang sangatlah sederhana ini dapat dimengerti untuk siapapun pembacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan tugas ini di waktu yang akan datang.

Groeneveld Alias Condet

Menurut peta Jakarta lama, Condet termasuk ke dalam distrik Cililitan Besar. Data tertulis pertama yang menyinggung–nyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham Van Riebeeck, ketika masih menjabat Direktur Jenderal VOC di Batavia (sebelum menjadi Gubernur Jendral). 


Dalam catatan tersebut, pada tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet menuju Parung: “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet” (De Haan 1911: 320).

Tanah Condet cukup subur, buah-buahannya manis. Salak Condet yang terkenal itu selain manis juga “masir”. Dulu penduduk Condet memang hidup dari pertanian, walau sebagian kecil ada juga yang menjadi kusir delman atau berdagang.

Di abad ke- 18 orang Belanda menyebut Condet dengan sebutan Groeneveld, yang berarti Tanah Hijau. Pada waktu itu Condet termasuk bagian dari tanah partikulir Tandjoeng Oost atau Tanjung Timur milik Peter Van Der Velde asal Amersfoort (De Haan 1910:50).

Sejarah Tanjung Timur

Sejarah landhuis Tanjung Timur tidak bisa dipisahkan dari Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk, anak lelaki dari Gubernur Jendral Jeremias van Riemsdijk yang menjadi gubernur jendral pada tahun 1775-1777.

Tetapi kalau ditelusuri siapa yang membangun landhuis Tanjung Timur, kita akan sampai pada Pieter van de Velde, anak dari Amersfoort, yang tahun 1740-an menjabat klerk. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Hindia, direktur dari Sositet Amfiun dan pimpinan rumah sakit. Ketika terjadi pembantaian orang Cina pada tahun 1740, ia mengambil alih tanah di sebelah selatan Meester Cornelis, yang sebelumnya dimiliki oleh Kapiten Cina Ni Hu Kong. Sampai tahun 1750 ia menambah penguasaan tanah di situ, antara lain dengan membeli tanah Bupati Cianjur, Aria Wiratanoe Datar. Tanah itulah yang kemudian dikenal sebagai tanah Tanjung Timur atau Groeneveld.

Di atas tanah itu pada tahun 1756 ia membangun rumah besar (landhuis) dengan model berbeda dari rumah-rumah Belanda di kota tua. Bentuknya adalah vila tertutup. Van de Velde tidak lama menikmati rumah besar itu. Ia meninggal pada tahun 1763. Pewarisnya menjualnya pada tahun 1759 pada Adriaan Jubbels, seorang tuan tanah kaya-raya dari usaha penggilingan tebu di sekitar Betawi. Ketika ia meninggal pada tahun 1763, rumah Groeneveld dibeli oleh Jacobus Johannes Craan, yang kemudian memperbaiki bangunan dan mengganti pintu dengan kayu ukiran.
Craan merupakan pemilik tanah yang kaya-raya dengan sejumlah jabatan yang menguntungkan. Ia tidak saja menjadi direktur dari Sositet Amfiun (perkumpulan candu), komisaris dari tanah-tanah milik kumpeni di daerah hulu (udik) Betawi, dan menjadi anggota Dewan Hindia.

Craan yang mengawini gadis berumur 15 tahun itu sempat lama tinggal di situ. Salah seorang anaknya, Catharina Craan, menikah dengan Helvetius van Riemsdijk.
Ketika ayah mertuanya meninggal, Riemsdijk memperoleh warisan tanah luas itu pada tahun 1781. Perjalanan hidup Riemsdijk muda ini dengan jelas menunjukkan adanya KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) di lingkungan kumpeni.
Riemsdijk muda dilahirkan pada tahun 1752. Ayahnya, Jeremias van Riemsdijk, merintis dari bawah. Ia pernah menjadi kapten dalam dinas kumpeni. Pada tahun 1735 dalam usia 23 tahun Jeremias hidup tanpa uang di Hindia Timur. Tetapi hanya dalam waktu sepuluh tahun ia menjadi tokoh yang kaya dan berpengaruh di Betawi. Posisi itu membuat keturunan Riemsdijk mudah mendapatkan jabatan di lingkungan kumpeni.
Helvetius Riemsdijk masuk dengan pangkat asisten. Tujuh tahun kemudian ia mencapai jabatan administratur tingkat satu, dan ditempatkan di pulau Onrust, pulau tempat memperbaiki kapal-kapal kumpeni.

Sejak menduduki jabatan penting, mulai tahun 1790-an ia mengoleksi tanah-tanah di berbagai kawasan penting Betawi. Misalnya Tanah Abang, Cibinong, Cimanggis, Papisangan, Ciampea, Cibubulang, Sadeng, dan terutama sekali Tanjung Timur. Pada tahun 1777 jumlah penghasilannya mencapai 453.000 rijksdaalder (1 rds = 2,5 gulden).

Salah seorang anaknya, Daniel van Riemsdijk (1783-1860) tinggal di tanah itu. Ia seorang petani sukses, yang sempat memiliki 6.000 sapi. Maka sejak tahun 1830 Tanjung Timur dikenal sebagai tempat penghasil susu.
Ketika ia meninggal pada tahun 1860, warisannya jatuh pada anak perempuan Dina Cornelia, yang kemudian menikah dengan Tjaling Ament, seorang Belanda berasal dari Fries.

Landhuis Tanjung Timur juga mencatat peristiwa bersejarah, ketika Gubernur Jendral Van Imhoff bertemu dengan Ratu Syarifa Fatimah, yang menjadi penguasa Banten, setelah suaminya sakit. Mereka merundingkan hubungan yang lebih baik antara kumpeni dan Banten. Tetapi perundingan itu tidak mampu mengubah jalannya sejarah.


Tandjoeng Oost mengalami masa kejayaan ketika dikuasai oleh Daniel Cornelius Helvetius van Riemsdijk yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Setelah dia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjaling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara. Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. 

Setelah Tjaling Ament dan istrinya meninggal, Groeneveld dikuasai oleh Lady Rollinson, seorang kaya dari Inggris. Sebagai tuan tanah yang menguasai Condet, bangsawan Inggris tersebut mengharuskan rakyat Condet membayar pajak. Juru tagihnya para mandor dan centeng tuan tanah.


Saksi Bisu Perjuangan Entong Gendut & Rakyat Condet
Gedung Villa Nova atau Groeneveld yang diserang oleh Haji Entong Gendut beserta pemuda Condet itu adalah gedung satu-satunya dan terbesar di daerah Condet ketika itu. Keberadaan gedung tersebut membawa ciri khas bagi daerah tersebut sehingga banyak masyarakat pada waktu itu memberi nama daerah tersebut dengan julukan sebagai Kampung Gedong. Dan penamaan ini masih bertahan hingga sekarang, terbukti dengan adanya kampung Gedong di wilayah Condet.Mengenai sejarah gedung Villa Nova atau Groeneveld yang menjadi asal mula terbentukya kampung Gedong memiliki kisahnya tersendiri. Gedung ini dibangun oleh Vincent Riemsdijk, anggota Dewan Hindia, sebagai perkebunan dan sekaligus peristirahatan. Setelah kematiannya, putranya Daniel van Riemsdijk, seorang petani andal, benar-benar mengurus perkebunan Tanjung Timur dan mengelolanya dengan baik. Pada waktu itu, 6.000 ekor sapi digembalakan di perkebunan ini, tempat yang sekarang berdiri gedung-gedung megah dan jalan raya dari Tanjung Timur ke Terminal Kampung Rambutan.[9]

Di gedung ini pada 1749 pernah berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal Von Imhoff dan Ratu Syarifah Fatimah, wali sultan Banten. Syarifah, wanita terdidik dan cerdas, pada 1720 menjadi istri Pangeran Mahkota Banten, Zainul Arifin. Ia sangat berpengaruh terhadap suaminya ketika menjadi sultan Banten (1733). Tapi, Syarifah sendiri meninggal dengan merana karena dibuang ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu, akibat pemberontakan Kyai Tapa (1750). Ia ditangkap akibat ambisinya untuk mengangkat Syarif Abdullah, yang menikah dengan keponakannya, untuk dijadikan pangeran mahkota Kesultanan Banten.Gedung yang juga dikenal dengan Villa Nova itu telah beberapa kali berganti pemilik. Menurut Ran Ramelan tiap penggantian tuan tanah ini, diadakan peraturan baru yang memberatkan rakyat Condet. Terhadap tiap pemuda Condet yang telah menginjak dewasa dikeluarkan kompenian atau pajak kepala sebesar 25 sen (nilainya kira-kira 10 liter beras). Karena banyak petani yang tidak sanggup membayar blasting (pajak) yang sangat memberatkan itu, tuan tanah sering membawa petani yang tak sanggup membayar ke landraad (pengadilan). Dan tuan tanah di Condet sering mengeksploitasi masyarakat sehingga akibatnya banyak petani yang bangkrut, rumahnya dirusak, atau tak jarang yang dibakar. Penduduk yang belum membayar blasting hasil sawah dan kebunnya tidak boleh dipanen


Siapa Itu Entong Gendut

Berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, Entong Gendut ini digambarkan sebagai sosok yang pemberani dalam melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan Tuan Tanah yang didukung oleh Penjajah Belanda.  Dinamakan Gendut karena perawakannya agak gemuk. Panggilan Entong sendiri merupakan panggilan akrab kepada yang muda pada masa itu. Di beberapa wilayah seperti Pondok Gede dan Bekasi, panggilan Entong ini bahkan masih sering saya dapati. Bahkan salah seorang orangtua sahabat saya, kalau ketemu saya selalu memanggil saya Entong...

Keberadaan atau kisah Entong Gendut ini dapat saya katakan sangat minim referensinya dalam sejarah Jakarta, namun bagi orangtua di Condet yang usianya diatas 70 tahun, nama yang satu ini sangatlah melekat dihati mereka. Entong Gendut sendiri kisahnya sudah masuk dalam Forklore (cerita rakyat). Itu artinya keberadaan beliau sudah diakui masyarakat Jakarta baik secara fakta maupun legenda, jadi sangatlah mengherankan jika ada warga Jakarta, apalagi mereka yang senang akan sejarah tidak mengenal sosok Entong Gendut ini.

Entong Gendut memang sosok yang misterius dan cukup menarik untuk dilacak sejarahnya. Beberapa tahun lalu untuk melacak jejak dirinya, saya pernah mendengar jika beliau ini punya keturunan yang tinggal di sekitar Gang Pangeran di samping SMA Global Islamic School. Memang jika saya melihat Gang Pangeran ini masih ada beberapa peninggalan rumah betawi Tua, yang satu berada di samping mushola yang satu dipinggir jalan Gang Pangeran. Insya Allah ke depannya saya akan mencoba mencari jejak keturunan Entong Gendut ini.

Dalam perjalanan hidupnya Entong Gendut adalah sosok pembela rakyat Condet yang telah lama ditindas secara semena-mena oleh Tuan Tanah dan antek-anteknya. Tuan Tanah dari bangsa asing ini serta penjajah Belanda banyak berbuat zalim dengan cara membuat pajak tanah dan pajak tanaman dengan nilai uang yang sangat  tinggi, bahkan mereka tidak segan-segan merampas secara sefihak tanah-tanah pertanian rakyat.  Tanah Condet pada masa lalu memang sangat makmur dan menjanjikan bagi para pemiliknya, apalagi daerah ini merupakan dataran tinggi yang aman dari wilayah banjir serta jauh dari pengawasan pemerintahan Penjajah Belanda yang berada dipusat kota seperti daerah Jakarta Pusat yang sekarang ini.

Perlawanan para pemuda dan pejuang Jakarta terhadap para Tuan Tanah dan Penjajah pada masa lalu memang kebanyakan berawal dari masalah pertanahan. Sejak dahulu masalah tanah selalu menjadi gejolak antara si kaya dan si miskin, antara rakyat dan penguasa. Tanah-tanah rakyat inilah yang akhirnya selalu menjadi penyebab timbulnya perjuangan. Tanah yang harusnya menjadi milik pribumi, justru telah dirampas dan dimiliki oleh Tuan Tanah dari Bangsa Asing. Ironisnya Tuan Tanah dari Bangsa Asing ini banyak juga dibantu oleh para penghianat yang rela mengorbankan darah saudaranya sendiri demi kepuasan harta dunia. Rakyat seperti bukan hidup di negerinya sendiri. Mereka seperti tamu di negerinya sendiri, bangsa asinglah yang justru menjadi Raja. Rakyat betul-betul menderita dan itu juga dialami oleh Entong Gendut. Sekalipun rakyat dicekam ketakutan oleh tindak tanduk Tuan Tanah dan Penjajah Belanda,  namun hampir semua rakyat Condet sangat mendukung dan simpati terhadap perjuangan Entong Gendut ini,  walau mereka hanya bisa mendukung melalui doa. Rakyat memang tidak bisa membantu langsung perjuangan Entong Gendut itu karena mereka selalu  dicekam ketakutan karena telah terus menerus mendapatkan ancaman intel-intel dan pasukan Belanda yang terus mencari keberadaan Entong Gendut dan kawan-kawannya.

Perlawanan Entong Gendut sendiri muncul setelah redupnya perlawanan Pendekar Pitung, dimana satu persatu anggotanya Syahid dan gugur ditangan penjajah Belanda.

Dalam beberapa riwayat, dan ditulis yang kami ketahui beberapa tahun lalu, Perlawanan Entong Gendut ini tidak lama karena keburu “gugur” oleh Penjajah Belanda. Nah pada sisi inilah saya ingin  menjelaskan sejarahnya lebih dalam lagi. Pada beberapa versi yang pernah kami ketahui, Entong Gendut ditulis gugur pada tahun 1916 Masehi setelah tertembak ditepi sungai Ciliwung. Versi kedua Entong Gendut “naas” karena menyalahi pantangan ilmunya yang tidak boleh menyeberangi sungai, sehingga ia akhirnya tertembak dan tewas. Versi ketiga Entong Gendut Gendut terjebak di tepian sungai Ciliwung dan ditembaki oleh pasukan Belanda, namun beliau dikatakan kebal dan tahan peluru, namun akhirnya menyerah karena kalah jumlah, kemudian dia memberi tahu kelemahan ilmu yang dimilikinya. Versi keempat beliau tertembak dan tewas kemudian mayatnya dibawa ke Cililitan namun kemudian ternyata hilang, kemudian tidak lama kemudian terdengar bahwa beliau “hidup” dan muncul di Purwakarta Jawa Barat.

Dari sekian versi tersebut, semua rata-rata menyatakan bahwa Entong Gendut gugur, walaupun ada beberita cerita yang dipengaruhi unsur mistik, dan cerita seperti ini memang biasa disebarkan fihak fihak penjajah kepada rakyat untuk menggambarkan bahwa “sesakti-saktinya” jagonya pribumi, tetap saja ia kalah oleh Penjajah ! Padahal kematian Entong Gendut jauh dari prasangka dari penjajah ini.

Namun berdasarkan keterangan kitab Al-Fatawi dan keterangan KH Ahmas Syar’i Mertakusuma. Entong Gendut ini seperti yang digambarkan diatas. Entong Gendut memang gugur namun caranya tidaklah seperti yang diatas.

Perjuangan Entong Gendut



Menghadapi kebijakan tuan tanah seperti itu, rakyat Condet masih berusaha sabar. Namun, ketika kebun milik seorang penduduk bernama Taba dibakar karena belum membayar pajak, mereka akhirnya bangkit melakukan perlawanan. Pada 5 April 1916 Villa Nova diserang oleh para petani Condet. Pemberontakan itu dipimpin Haji Entong Gendut, seorang jawara yang dikenal saleh.

Para pendekar persilatan yang berada di Tanjoeng Oost khususnya, dan Condet umumnya bersatu melawan para tuan tanah dan centeng-centengnya yang sering menindas rakyat. Teriakan-teriakan “Allahu Akbar! Sabilullah! gua kagak takut!” menggema ke seantero Condet, mewakili genderang perang jihad menegakkan amar makruf nahi munkar.

H Entong Gendut, dibantu oleh beberapa tokoh lainnya seperti Maliki, Modin, Saiprin (Ngkong Prin/Babe Cungok), H. Amat Wahab, Said Kramat, Hadi, Dullah, dan orang-orang keturunan Arab dari Cawang seperti Ahmad Al Hadad, Said Mukhsin Alatas, dan Alaydrus, menentang tuan tanah dan Kompeni Belanda.

Akibat serbuan itu, beberapa keluarga tuan tanah berhasil ditawan. Bahkan bebeapa pejabat Belanda yang datang dari Meester Cornelis untuk memadamkan pemberontakan itu juga ditangkap Haji entong Gendut dan kawan-kawan.

Hal ini membuat pihak Belanda marah dan mengerahkan bala bantuan dari Batavia. Pemberontakan berhasil ditumpas. Haji Entong Gendut gugur. Kelihaiannya bermain jurus silat Sapu Angin, tidak menghalangi hunjaman peluru Belanda yang deras mengarah ke dadanya. 
Dia tersungkur tertembak ketika terpancing Belanda untuk menyeberangi kali Ciliwung. Konon, menurut cerita rakyat, kekebalan Entong Gendut akan luntur apabila terkena air sungai.

Demang Mester Cornelis yang kala itu memimpin penumpasan rakyat Condet, memerintahkan untuk membawa Entong Gendut ke Rumah Sakit Kwini (kini RSPAD). Namun, di tengah perjalanan dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Satu persatu para pengikutnya ditangkapi.

Setelah pemberontakan itu, tindakan tuan tanah dan Kompeni terhadap rakyat Condet semakin kejam, sehingga tidak ada seorang pun orang dewasa yang berani tinggal di Condet. Mereka semua melarikan diri dari kejaran Belanda. Beberapa pendekar lain seperti Maliki, Modin, Hadi, dan Dullah melarikan diri ke arah timur, yaitu Rawa Binong (sekarang termasuk Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur).

Bahkan di jalan-jalan Batavia sampai tidak ada yang berani mengaku orang Condet. Kala itu banyak pemuda Condet yang ditangkap dan pulang tinggal nama. Situasi mencekam itu digambarkan dalam pantun rakyat Condet yang cukup terkenal :

Ular kadut mati di kobak, Burung betet makanin laron
Entong gendut mati ditembak, Orang Condet pada buron.


Motif Lain  Dibalik Perjuangan Entong Gendut
Entong Gendut dalam catatan KH Ahmad Syar’i Mertakusuma ternyata adalah merupakan bagian dari strategi perjuangan dari Mujahidin Jayakarta. Entong Gendut ini ternyata masuk dalam jaringan Gerakan Perjuangan KI DALANG yang berpusat di Desa Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang, sedangkan Majelisnya berada di Kampung Bambu Larangan Cengkareng, Masjid Kumpi Haji Kuntara Nitikusuma (kini nama Masjid Kuntara berganti menjadi Masjid Safinatul Husna). Pada waktu itu wilayah Tangeran Kampung Naga masuk menjadi wilayah Jayakarta. Dan di wilayah Tangerang dan Cengkareng inilah banyak terdapat Mujahidin Jayakarta.

Gerakan KI DALANG adalah gerakan Perjuangan Mujahidin Jayakarta, setelah redupnya perlawanan 7 Kesatria Jayakarta, Pendekar Pituan Pitulung (Pitulung). Tumbangnya gerakan Pitung di tahun 1905 Masehi setelah gugurnya Penghulu mereka yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma, setelah itu semua Mujahidin Jayakarta melakukan konsolidasi dibawah tanah hingga kemudian akhirnya pada tahun 1914 muncul Gerakan Perjuangan Ki Dalang.
Gerakan Ki Dalang adalah gerakan perlawanan terhadap kezaliman Tuan Tanah dari bangsa asing ataupun bangsa sendiri yang didukung Penjajah Belanda. KI Dalang ini memang banyak yang terdiri dari Dalang, namun dalam praktek perdalangannya mereka menyebarkan ajaran jihad fisabilillah terhadap pada Tuan Tanah dan Penjajah Belanda. Kata-kata “kafir” sering dikumandangkan untuk membedakan antara Tuan Tanah, penjajah dan rakyat Jayakarta.

Gerakan Ki Dalang dimulai tahun 1914 dan berakhir pada tahun 1926.

Dalam perjuangan KI Dalang ini Entong Gendut mendapatkan tugas  di bagian Timur Jayakarta, termasuk Desa Condet, sedangkan bagian Selatan yang mendapatkan tugas adalah Entong Geger dari Jati Padang Pasar Minggu. Peta pergerakan Entong Gendut adalah dimulai dari Kampung Condet sampai wilayah Tanjung Barat. Setiap beberapa bulan mereka melakukan konsolidasi dan mematangkan strategi dengan para pejuang Jayakarta lainnya.

Perjuangan Entong Gendut ini cukup membuat repot Penjajah Belanda dan membuat ketakutan para Tuan Tanah di kawasan Condet dan Tanjung Barat, apalagi Entong Gendut ini tidak segan-segan memberikan “hukuman” keras kepada mereka yang berfihak kepada Penjajah dan Tuan Tanah, berapa kali ia bersama dengan teman-temannya berhasil memberi pelajaran telak kepada pasukan belanda, Tuan Tanah dan antek-anteknya.

Semangat perjuangan Entong Gendut adalah Jihad Fi Sabilillah, sehingga apabila dia mendengar atau melihat langsung kemungkaran, maka Entong Gendut akan segera bertindak. Semangat Islamnya sangat luar biasa sekali.  

Perjuangan Entong Gendut sendiri harus berakhir pada tahun 1920 Masehi. Pada tahun inilah Entong Gendut tertangkap Belanda. Bersama dengan tokoh KI Dalang lainnya dia tertangkap tangan. Mereka yang tertangkap adalah :

1.                  Radin Abdul Karim bin Daim Nitikusuma
2.                  Entong Geger dari Jati Padang
3.                  Entong Gendut dari Condet
4.                  KH Ahmad Syar’i Mertakusuma
Penutup
Demikianlah sekelumit sejarah Entong Gendut yang ternyata merupakan salah satu Mujahidin Jayakarta dan merupakan satu rekan perjuangan dari Al-Allamah KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang merupakan penulis kitab Al-Fatawi,semoga kisah Entong Gendut ini menjadi inspirasi bagi kita semua dan saya berharap kedepannya, nama Entong Gendut ini bisa diperhatikan untuk diabadikan atau dijadikan nama sebuah jalan atau tempat di sekitar Condet, karena beliau ini adalah seorang pejuang dan mujahidin yang telah berani membela kehormatan rakyat Jakarta dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Mudah-mudahan tokoh masyarakat, ulama dan pemerintah setempat bisa memperhatikan nama pejuang yang satu ini.....

Daftar Pustaka

Fahrul Rozi
4423155443
Usaha Jasa Pariwisata B

Selasa, 15 Desember 2015

Tugas 1 - Autobiografi Jefta Kurniawan

 BIOGRAFI
JEFTA KURNIWAN
Saya akan menjelaskan perjalan hidup saya dari semasa saya kecil hingga dewas, sebulum nya saya akan mengenalkan diri saya terlebih dahulu :

Nama                              : Jefta Kurniawan
Nama Panggilan             : Jepta , Awan
Tempat / Tanggal Lahir : J akarta, 04 Mei 1996
Tinggi Badan                 : 175,cm
Berat Badan                   : 68, kg
Agama                            : Islam         
Nama Ayah                    : Setyo Budi Surono
Nama Ibu                       : Rumidah
Pendidikan                     : Universitas Negri Jakarta – Usaha Jasa Pariwisata
Hobi                               : Menggambar, Nonton Film, Baca Buku, Renang.





Perkenalkan nama saya Jepta Kurniawan saya anak pertama dari tiga bersaudara, saya mempunyai dua adik yang masih kecil, ade saya yang pertama bernama Ilham Risky S etiawan dia masih bersekolah di bangku SMP dan ade saya yang satu lagi bernama Satrio Wahyu Nursalim dia adik saya yang ke tiga atau terakhir, dia masih cukup kecil sekarang dia bersekolah di SD yang tidak jauh dari rumah sekarang di baru menduduki di kelas tiga SD dan untuk hobi saya sendiri adalah menggambar, berenag, membaca dan bermain motor, sebelum nya saya akan menyeritakan tentang BIOGRAFI saya dan perrjalanan saya dari saya dilahirkan hingga sekarang.

            Sewaktu  saya belum dilahirkan orang tuang saya mengandung saya selama Sembilan bulan, hingga pada ahkir nya saya di keluarkan, Sewaktu orang tua saya ingin melahirkan saya pada tanggal 04,05,1996 orantua saya di bawa ke bidan terdekat,tetapi bidan nya gak bisa nangan nin nya kata bidan berkata anak ibu posisi nya miring dan terlilit tali puser, pada akhir nya orangtua saya di larikan ke rumah sakit HERMINA Jakarta, disana tempat ibu saya melahirkan saya.
Sehabis saya lahir pada umur 2thn saya mengalami masa masa kecil yang manis’pahit saya rasakan, menganpa karna pada tahung 1998 saya mengalami Kerisis Moneter (KRISMON0 yang dimana masa-masa itu adalah masa demo gede-gedean untuk menurunkan jabatan Suharto, yang dimana masa-masa itu adalah masa yang sangat anaki, karana pada masa iu took-toko yang buka asti dibakar-bakarin harga sembako dalan lain-lain makin mahal karna tidak ada took yg dibuka pada jaman itu.
Setelah masa-masa itu berlalu, orang tua saya di panggi untuk bekarja di PT Suzuki Indomobil Motor, pada akhir nya orangtua saya dapat membeli rumah, ya walaupun tidak besara-besar amat tetapi cukup nyaman untuk ditempati, karana memang saya dulu masi ngontrak di daerah pulo gadung Jakarta timur, lalu saya pindah ke daerah bekasi setelah kelar masa-masa kirisi moneter, semnjak itu saya menekuni kesukaan saya karna orang tua saya sudah mempunyai pekerjaan yang lumaya gaji nya, dulu kesukaan saya yaitu benerang dan menggambar, walaupun kecil saya tidak bisa berenang dan hanya main air saja kalo setiap berhenang, tetapi saya melihat orang-orang berenang lalu saya ikuti trik-trik nya orang berenang, kalo untuk menggambar saya paling hanya bisa menggambar pegunungan saja, karna untuk anak kecil gambar yangpaling mudah adalah gambar pegunungan saja. 

Dan sejak saya di bangku SD saya memang suka sekali menuangkan ide-ide saya dengan menggambar, terutama menggambar seketsa wajah, tulisn dan grafity. Pada jaman dulu saya saya memang belum mempunyai idola sang maestro untuk menjadika motifasi bagi saya, tetapi saya menggambar apa yang ada dalam pikiran saya saja, dan langsung saya tuangankan kedalam buku gambar dan pensil warna.

Ini adalah salah-satu gambar saya saat saya masih sekolah di bangku dasar :
Ide-ide dan dan pemikiran saya dalam hal menggambar terus saya kembangkan dengan cara saya meniru gambar-gambar yang saya suka yang saya ambil dari internet.
Tidak hanya itu kesukaan saya saat SD tetapi saya juga sangat suka dengan berenang, karna kalo menurutsaya berenang bisa membuat kita jadi sehat, tinggi dan bahagia, makan saya selalu meluangkan waktu saya untuk berenag bersama keluarga, apalagi kalo setiap hari libur atau weekends.

Salin itu waktu jama nya saya SD saya biasa membuat prakarya dari bamabu dan kayu yang dimana saya dan kawan-kawan saya biasa membuat layang-layang, tembakan dari kayu (petokan), dan serta mobil-mobilan dari kayu, untuk membuat mobilan dari kayu biasa nya saya menggunakan potongan bambu-bambu tipis yang di ikat dengan karet, sehingga membentuk kerangka mobil balap, dan roda nya biasa nya saya buat dari kaleng bekas susu dan roda depan nya saya buat dari sandal yg susdah putus, lalu saya potong hingga membentuk bundar seperti roda,
Kalo untuk membuat tembakan dari kayu (peltokan) saya menggunakan bamboo berukuran kecil, lalu di potong menjadi dua bagia dengan ukuran yg berbeda, untuk potongan yg kecil bisa digunakan untuk pegangan, lalu tengah bambunya yg bolong dikasih potongan bamboo yang sudah dipotong dengan potongan yg berbentuk bulat dan panjang, lau dimasukan nya kedalam lubang bamboo yang berukuran pendek, jadi deh tembakan yg disebut peltokan, dan untuk peluru nya bisa menggunakan kertas/Koran yang di basahkan menggunakan air, lalu di bulat-bulatkan dan dimasukan kedalam bamboo nya dan lalu di dorong dengan menggunakan gagang nya, sehingga bisa menembakan peluru kertas tersebut.
Memang masa keceil saya sungguh indah, banyak atifitas yang saya lalukan di masa kecil saya, dari mulai melakukan aktifitas yang di atas hingga saya selalu rutin bermain bola dengan teman-teman saya, ya walaupun saya bermain sepakbola nya tidak stadion, menurut saya bermain dilapangan biasa atau di lapangan dekat rumah juga sudah mengasikan ko, apalagi bermain nya dengan sahabat-sahabat saya.
Setelah asik bermain bola biasanya saya langsung beristirahat di pinggiran sungai yang tidak jauh dari tempat saya tinggal, sambil beristirahat saya meminum es sambil bercada dan bersuka ria dengan teman & sahabat-sahabat saya.

Setelah saya sudah memasuki masa SMP saya sudah jarang bermain lagi, tidak kaya dulu watu jaman SD,mungkin karana kita sekolah nya yang berbeda-beda dan mungkin mereka juga sudah mempunyai kesibukan nya masing masing dan teman teman baru nya, paling hanya hari libur saja saya berkumpul dengan teman-teman lama saya,
Dan setelah mereka pada sibuk, sayapun akhir nya untuk memilih mengambil kursus bimbingan belajar atau juga disebut (bimbel) di daerah samrel (samping rel) yang dimana memang saya belajar disana karna di ajak oleh teman sekolah saya yang bernama Ahmad Fikri atau biasa di panggil Ambon, karana memang dia fisik nya seperti orang ambon, tapi padahal asli nya dia dari betawi, dan karna rumah nya tidak jauh dari sana, akhirnya saya saya akrab sama dia, nah dari itu saya diajak main di daerah dia yaitu di samrel, saya bermain sama mang cukup bahaya tapi mengasikan, kenapa bahaya karna teman teman dia suka jalan-jalan atau berpetualang kemana saja dengan bermodalkan nekat saja, kaya waktu itu hari minggu saya main kesana dan pas  ketemu saya sama dia, ternyata dia lagi mau jalan-jalan untuk main ke daerah setu untuk berenag di danau, padahal kolam renga tidak jauh dari sana mungkin emang karnara kalo di kolam renag sudah biasa makanya mereka ingin merasakan berenag di danau yang berada di setu, ya karna di ajak saya pun tertarik lalu saya ikut dengan mereka nuntuk pergi berenang ke daerah setu yang jarak nya lumayan jauh dari rumah saya, karna memang waktuitu saya dan teman-teman saya hanya membawa uwang pas-pasan yasudah akhirnya saya dan teman teman saya sepakat untuk memberhentikan mobil book atau truk untuk diminta pertumpangan, setelah kami di ijinkan untuk boleh menumpang di mobil tersebut akhir nya kami naik untuk menuju ke daerah setu.

             Lalu saya mulai berenang di danau love atau danau cinta yang berada di daerah setu, dan disana tidak hanya berenag saja tetapi juga mencari kerang udang untuk di masak di tempat teman saya, setlah saya dan teman-teman saya puas berenang kami pun berjemur di pinggir danau sambil meminum es dan memakan gorengan sambil melihat jalan tol yang membentang di hadapan saya, karna memang warung nya itu menghadap ke jalan tol bekasi – Jakarta.

            Setelah rasa lelah abis berenang sudah mulai turun serta baju yang basah  pun sudah mulai kering dan hari pun sudah mulai gelap akhir nya saya dan teman-teman saya pun bergegas menuju rumah/pulang, saya pun mencari mobil yang bisa kami tumpangi untuk menuju  perjalan pulang, dan pada akhir nya kami pun mengikut bus kariawan  karna emang pas kami balik kariawan PT YKK pun juga pada balik, akhir nya kami mengikut bus angkutan kariawan.
ke esokan hari nya adalah waktu nya sekolah, jadi malam  nya saya pake untuk belajar seperti mengerjakan PR membaca dan menghafal rumus-rumus hingga sampai jam delapan, dan istirahat sebentar sambil menonton TV dan nyemil, kira-kira jam setengah sepuluh saya pun menuju kamar untuk tidur.

Setelah ke esokan hari nya saya bangun jam enam  pagi lalu saya mandi terus saya membaca sebentar sambil menunggu sarapan siap, setelah sarapan siap saya pun sarapan dan lalu berangkat ke tempat sekolah saya yang jarak nya tidak lumayan jauh dari rumah saya, sesampai nya di sekolah saya belajar hingga jam dua belas setelah itu saya langsung meminta ijin ke orangtua saya bahwa seabis pulang sekolah tidak langsung poulang karna ingin ngerjain tugas kelompok, setelah ijin kami pun berangkat kerumahteman saya yang berada di peruman mewah yang ada di dekat sekolahan saya, sesampai nya disana saya langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru pengajar saya, setelah selesai kami pun tidak langsung balik kerumah tetapi kami bersantai dan  ngobrol dulu sambil berkumpul ria, sesudah itu kami pun bermain PS di rumah temen saya hingga jam 3an , dan karana memang waktu udah sore dan saya belum balik kerumah untuk ganti baju akhir nya kami pun balik kerumah, sesampai nya dirumah saya langsung makan dan beristirahat setelah sore nya sekitar jam empatan saya pun bangun lalu beres-beres rumah untuk membantu orantua saya karna memang ibu saya mempunyai kegitan setiap sore yaitu berusha makanan ringan di sekolahan SD saya, makan nya jadi setiap sore saya membantu ibu saya mengurusi pekerjaan rumah.

Nah malem nya saya karna sudah tidak ada tugas dari sekolah saya pun hanya membaca komik saja untuk sekedar ingan membac setelah itu saya nonton  TV lalu saya tidur, begitu pun seterus nya setiap hari nya tetapi hari ini saya ada kegitan ekstrakulikuler, saya mengikuti ekskul bola jadi ada latihan untuk bola sehabis pulang sekolah, saya biasa latitahn di lapangan dekat kecamatan yang dimana itu adalah stadion bolan milik kecamatan tambun selatan, lapangan nya lumayan bagus dan luas jadi kami bisa leluasa untuk latihan dan bermain bola.
Setelah pulang latihan bermain sepak bola saya pun langsung bersih-bersih dan sesudah itu sayapun makan dan beristirahat di kamar sambil menggambar-gambar seketsa di tembok rumah, karna emang saya mempunyai kamar sendiri dan bebas untuk di corat-coret karna emang orang tua saya tau kalo hobi saya menggambar.

Dan kesokan hari nya karna hari libur atau tanggal merah saya pun tetap bangun pagi untuk membereskan kamar saya, sesudah itu saya pun langsung beres-beres rumah karna memang rumah saya kalo pagi selalu ada saja mainan yang berserakan, karna saya memang masih mempunyai adik yang masih kecil, biasa anak kecil memang hobi nya bermain.
Setelah agak siang-siangan sayapun main kerumah teman saya, ternyata motor teman saya lagi mau di bongkar mesin nya, piker saya motor nya turun mesin apa mogok, dan ternyata dia ingin membongkar motor nya memang sengaja supaya motor nya menjadi kencang, mamang teman saya sangat suka mengotak-atik mesin motor setiap hari nya dai selalu membongkar motor nya untuk membersikan karburator me modifiksi motor setandar menjadi motor ayam jago, seperti motor drag yang yanga ada di tempat tempat balap.
Dan akhir nya sayapun ikut teman saya untuk ke bengkel langganan dia, saya selalu melihati cara membongkar dan meng ganti-ganti barang supaya motor itu jadi kenceng sampai pada akhir nya saya tau dan inggin mempelajari nya.

            Tidak hanya itu saja saya pun di ajak teman saya untuk nonton kontes balap di daerah perumahan deltamas, memang disana sering di jadikan ajang balap resmi untuk kalangan motor drag 125 hingg 250 cc, dan disana saya semakin tertarik untuk ikut bermain motor kencang, dan akhir nya karna setiap ari saya nongkrong di bengkel untuk belajar, sayapun menanya teman saya yang punya motor kencangtersebut, rih kan lu suka bgt ya sama motor cepat, terus lu kalo mau ngalanjutin sekolah dimana? Di pun menjawan ya paling gua ngelanjutin di SMK jep karna kan kalo seklahan SMK itu sekolahan yang menjuru untuk siap kerja di bidang industry yang kita sukai, ohh iya tuh bener juga terus setelah saya saya lulus dari SMP saya pun lanjut untuk mengambil sekolah di SMK bersama teman saya yang berhobi motor tersebut.
foto saat saya sedang berada di bengkel teman


            Setelah hari pertama mendaftar di SMK saya pun mengambil pilihan untuk mengambil jurusan TRK (teknik kendaraan ringan) yang dimana jurusan tersebut memang menjuru ke kendaraan ringan seperti jurusan yang mempelajari tentang sepeda motor dan mobi.
Setelah itu saya pulang untuk belajar, karna memang besok masa ujian untuk masuk sekolah tersebut, saya pelajari semua mata pelajaran agar bisa dapat di SMKN 1 Cikarang Barat.
Setelah ke esokan hari nya saya mendatangi sekolahan nya untuk ujian masuk SMK tersebut, setalah lembaran demi lembaran demi lembaran kami lewati, akhir nya waktu pun habis untuk mengerjakan tugasnya, sehabis itu saya balik dan menunggu informasi di terima atau tidak.
Dengan sabar menanti sampai hingga waktu nya tiba, dengan deg-degan sayapun membuka wabsait nya untuk melihat hasil nya, dan pada akhir nya saya pun di terima di SMK sana Dengan hati bangga dan senang saya beri taukan hasil nya ke orangtua saya,
Dan orangtua saya bangga pada saya, sambil bilang “ini jalan kamu, ini jurusan yang kamu pilih dengan kamu bersekolah di sana kamu harus tau bahwa kamu nanti besar mau jadi apa? Kalo emang ingin menjadi mekanik, kamu teruskan jurusan yang kamu pilih ini, tetapi kalo cita cita kamu bukan untuk jadi mekanik mendingan kamu tunda dulu dan cari jurusan lain, karna sekolah smk adalah sekolah yang ber besik kejuruan.
Lalu pun saya menjawab semua dari kata-kata ayah saya, iya yahh jepta udah mantep dengan pilihan saya jadi jepta akan tetap melanjutkan  jurusan ini, ayah pun menjawab “yaudah kalo emang keputusan mu begitu ayah ikuti, tapi inget jangan pernah mengeluh tentang pelajaran ini, karna memang ini jurusan yang telah kamu pilih.

            Setelah saya memasuki sekolah, di SMK tersebut saya pun dibagi kelas nya waktu itu saya mendapat kelas TKR B yang dimana saya bareng dengan teman saya yang dulu nya bareng di SMP.  Saya senag bisa ketemu dia karna memang saya bisa mencari teman baru bersama-sama. Setelah hari kedua nya kami pun datang untuk mengikuti MOS (masa orentasi sekolah) saya bisa bilang di ospeng dari mulai fisik, karakter, dan sikap. Karna memang sekolahan di SMK itu fisik nya harus kuat gak boleh lemah karna siswa nya terlatih untuk dunia pekerjaan, serta siswa di di di-dik karakterdan sikap  nya agar siswa nya mempunyai karakter dan sikap yang baik.
foto saya saat saya SMK 



Selama tiga tahun saya lalui masa-masa pahit,asem,mais nya memakai seragam putih abu-abu deangan teman-teman saya hinga hingga pada akhir nya kami pun lulus bersama dengan membawa nila yang lumayan bagus dan ilmu otomotif yang sudah saya kuasai.
Setelah itu saya pun meminta pendapat orang tua saya, gimana nih bun dan yah jepta sudah lulus nih dari sekolah tersebut dengan nilai yang lumayan bagus, jepta tinggal bikin lamaran untuk keja saja nih bun yah, memang di sekolahan saya kalo sudah lulus di sana ada progam dari industry untuk merekrut kariawan-kariawan baru, karna memang sekolahan saya terakreditasi A, jadi banyak PT atau industry yang mencari tenaga kerja baru dari sekolahan saya.

            Tetapi orang tua saya pun berkata, gpp kamu kalo mau kerja dulu tapi kamu gak akan dapat posisi yang enak dalam kerjaan kamu, karna ijasa smk paling hanya bisa kerja di bagian oprator saja bahkan tidak bisa naik jabatan, paling sestem nya kontrak saja enam bulan keluar, satu tahun keluar pada akhir nya saya pun di suluh kuliah saja melanjutkan hobi saya bermain motor.
Setelah saya daftar kuliah saya mengambil tiga jurusan, yang pertama saya tentu mengambil jurusan teknik otomotif, yang kedua saya mengambil seni karna memang saya dulu nya memang sukan menggambar sampai sekarang, dan yang terakhir saya ambil jurusan pariwisata karna memang saya juga sengang kalo lagi pas liburan dan jalan jalan bersama keluarga.
Setelah uji tes, akhir nya saya pun di trima di pariwisata saya senang karna saya pada akhir nya di terima di negeri, tapi saya bingun mau bilang apa ke orang tua saya, karna waktu mau masuk smk saya bilang nya memang menykai motor, tapi sesdah saya bilang akhir nya saya pun di nasehati lagi, yasudah ambil saja kata bunda saya saya udah dapat di negri kalo gak di ambil, kata papah saya kalo emang kamu mau menjalanin nya mah papah dukung, lagian mumpung papah masih bisa membiyayai kamu kenapa gak kalo emang kamu mau.
Dan pada akhir nya saya berkuliah di UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA dengan jurusan Usaha Jasa Pariwisata hingga sekarag.