Tampilkan postingan dengan label jefta Kurniawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jefta Kurniawan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2016

solusi unj untuk pariwisata indonesia (tugas 2)

MASALAH YANG ADA DI WSATA CANDI BOROBUDUR

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai MASALAH YANG TERDAPAT DI CANDI BOROBUDUR.

Adapun makalah dokumen perjalanan mengenai MASALAH YANG TERDAPAT DI CANDI BOROBUDUR. ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberikan saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan pengetahuan lebih kepada pembaca mengenai MASALAH YANG TERDAPAT DI CANDI BOROBUDUR.


BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam era moderenisasi bayak tempat-tempat wisata budaya peninggalan umat agama Buddha salah satu nya adalah tempat wisata CANDI BOROBUDUR yang dimana peninggalan itu telah di jadikan tempat objek-objek wisata. Dalam tempat-tempat wisata pasti saja selalu ada masalah-masalah yang tidak di duga duga, seperti masalah alam yang datang melanda, masalah lingkungan serta masalah yang mempengaruhi wisatawan bagi cand Borobudur tersebut.

B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah untuk kita lebih mengetahui masalah masalah yang terdapat di candi Borobudur dan agar untung mengetahui solusi untuk menyelesaikan masalah masalah yang terdapat di candi Borobudur tersebut..

BAB II PEMBAHASAN

Borobudur adalah salah satu candi Buddha terbesar di dunia. Keunikan candi yang dibangun Raja Samaratungga ini tidak hanya terletak pada struktur bangunannya yang terdiri dari 10 tingkat, tapi juga pada relief-relief di tubuhnya, yang menyimpan makna kehidupan di muka bumi. Relief itu akan terbaca secara berurutan bila kita berjalan searah jarum jam. dan Candi Borobudur juga terdaftar di World Heritage Site UNESCO. Yang arti nya candi Borobudur ini pernah menjadi anggota Tujuh Keajaiban Dunia.

Keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap. Dua puluh delapan negara duduk sebagai anggota dari Executive Committee for the International campaign to Safeguard the Temple Borobudur.
Dengan segala pesona dan misterinya, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, pengunjung juga bisa berkeliling ke desa-desa di sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga pembuat kerajinan. Pengunjung juga bisa pergi ke puncak Watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas Candi Borobudur.


Dengan begitu banyak para wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta kusus nya candi Borobudur, biasa nya wisatawan mengunjungi candi Borobudur untuk melakukan perjalanan, berlibur, berbisnis, berolahraga serta menuntut ilmu dan mengunjungi tempat-tempat yang indah atau tempat-tempat rekreasi yang ada di daerah jogjakarta.

Disana juga di adakan “Organisasi Wisata Dunia” (WTO), WTO adalah orang yang melakukan perjalanan ke negara asing dan menginap minimal 24 jam atau maksimal enam bulan di tempat tersebut. menurut pandangan psikologi, wisata adalah sebuah sarana memanfaatkan waktu luang untuk menghilangkan tekanan kejiwaan akibat pekerjaan yang melelahkan dan kejenuhan. Adapun ilmu sosiologi menilai pariwisata sebagai rangkaian hubungan yang dijalin oleh pelancong yang bermukim sementara di suatu tempat dengan penduduk lokal.

Krapf Hunziker, seorang pakar pariwisata meyakini bahwa wisata adalah munculnya serangkaian hubungan dari sebuah perjalanan temporal yang dijalin oleh seorang yang bukan penduduk asli.

            Pariwisata, berdasarkan seluruh definisinya, adalah fenomena yang terus berkembang. Lebih dari itu, industri ini telah menyelamatkan sejumlah negara dari krisis, dan memarakkan pertumbuhan ekonomi nya.

Dan begitu pula  Candi Borobudur berhasil menampilkan diri sebagai pusat wisata yang mampu menyerap tingginya kunjungan wisatawan, yaitu kurang lebih 6.333,95 orang/ hari pada tahun 1997 dengan 13% wisatawan mancanegara dan sisanya 87% wisatawan nusantara.

5 Kemegahan, keagungan, keindahan dan keunikan arsitektur Candi Borobudur yang dibalut dengan nilai-nilai penting dari sisi agama, budaya dan sejarah telah menjadi fokus perhatian umat Buddha, baik di Indonesia maupun luar negeri, serta wisatawan pada umumnya untuk datang berkunjung. Dengan kata lain Candi Borobudur mendatangkan banyak devisa untuk negara.

adapun Jenis-Jenis & Karakteristik Wisatawan yang datang dan berkunjung, yaitu :

1.      Wisatawan lokal / domestik (local tourist) yaitu wistawan yang melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata yang berasal dari dalam negeri.
2.       Wisatawan mancanegara (interntional tourist) yaitu wisatawan yang mengadakan perjalanan ke daerah tujuan wisata yang bersal dari luar negeri.
3.      Holiday tourist adalah wisatawan yang melakukan perjalanan ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk bersenang-senang atau untuk berlibur.
4.      Business tourist adalah wisatawan yang bpergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk urusan dagang atau urusan profesi.
5.      Common interest tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan khusus.seperti,studi ilmu pengetahuan, mengunjungi sanak keluarga atau untuk berobat dan lain-lain.
6.       Individual tourist adalah wistawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara sendiri-sendiri.
7.       Group tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara bersam-sama atau berkelompo

Dengan seiring banyak nya wisatawan yang datang, dan itu juga akan mepengaruhi Kepedulian Lingkungan.

1.    Kepedulian  perihal sangat pedulikan ; yang arti nya sikap mengindahkan (memprihatinkan); 

2.    Lingkungan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan 
kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. 

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya

.     Potensi Pengembangan Candi Borobudur dan permasalahannya
Mengingat candi Borobudur adalah monumen Buddhis, tentu ziarah tersebut akan dilakukan oleh umat agama Buddha di Indonesia maupun Umat Buddha sedunia.
Kegiatan-kegiatan wisata akan menciptakan banyak lapangan kerja baru. Permintaan terhadap barang dan jasa yang diperlukan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan wisata ziarah tersebut akan meningkat.

Difungsikannya Candi Borobudur sebagai pusat wisata ziarah (dharmayatra), disamping sebagai pusat wisata budaya seperti selamaini yang kita kenal,  sangat berpotensial dengan alasan sebagai berikut :

Wisata ziarah merupakan salah satu preferensi calon konsumen (wisatawan) terhadap atribut keagamaan Buddha dari keberadaan Candi Borobudur. Terjadi proses nilai tambah dari wisata ziarah dibandingkan dengan sebelumnya.

Enam dari sepuluh negara anggota ASEAN adalah negara yang penduduknya banyak beragama Buddha, yaitu Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Singapura. Umat Buddha di negara-negara tersebut merupakan calon wisatawan mancanegara yang potensial ke Indonesia, terutama ke candi Borobudur.

Terlebih lagi Umat Buddha di negara- negara Asia lainnya yaitu RRC, Korea, Taiwan, Jepang, Hongkong, Sri Langka, Nepal, dan lain lain. Serta perlu dipertimbangkan pula Umat Buddha di Amerika, Eropah, Australia dan seterusnya, merupakan potensi Wisata Ziarah bagi Candi Agung Borobudur.

Wisata ziarah Buddhis sudah lazim dilakukan dan sangat berhasil di Thailand dan Kamboja. Berbagai vihara yang indah di Thailand serta keagungan candi Angkor di Kamboja telah menarik kedatangan banyak wisata mancanegara. Hal ini dapat menjadi bukti bahwa wisatawan ziarah akan mendatangkan devisa dalam jumlah cukup berarti.

Kita menyaksikan sejumlah Vihara dan Candi dinegara tetangga yang tidak memiliki keistimewaan seperti Candi Borobudur, namun telah berhasil dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar. dimana Candi / vihara tersebut berada juga telah mendatangkan devisa dari wisatawan mancanegara yang tidak sedikit jumlahnya.

Candi Borobudur yang seharusnya memiliki daya tarik sangat besar bagi kunjungan Wisata Ziarah sedunia, telah gagal memberikan kesejahteraan bagi peningkatan perekonomian rakyat kecil sekitar Candi tersebut. Apalagi yang berhubungan dengan pemasukan devisa bagi negara. Kita saksikan negara tetangga yang memiliki objek wisata ziarah walaupun tidak sebagus Candi Borobudur, namun telah mengatur tata kunjungan wisatawan dengan sedemikian rupa, sampai ada peraturan menghukum pengunjung yang berperilaku tidak sesuai dengan moral dan etika yang seharusnya, telah berhasil menikmati kemajuan pemasukan devisa serta memberikan kemajuan bagi perekonomian rakyat sekitarnya secara optimal.

Kerusakan Candi Borobudur oleh Manusia

Dijadikannya Candi Borobudur sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia telah memberikan sumbangan yang tidak kecil pada peningkatan devisa negara. Pengunjung Candi Borobudur Baru tahun ke tahun cenderung meningkat. Peningkatan jumlah pengunjung di satu pihak dapat menambah pendapatan negara dan masyarakat di sekitarnya, tetapi di lain pihak juga dapat mengancam kelestarian candi ini. Candi yang dibangun kira-kira abad VIII pada masa pemerintahan wangsa Sailendra ini telah kurang lebih 1260 tahun berada di alam terbuka, artinya bahan bangunan yang terbuat dart batu andesit itu juga telah mengalami proses degradasi (pelapukan) oleh faktor waktu dan alam.

Meningkatnya jumlah pengunjung ke Candi Borobudur akan memberikan dampak kurang baik bagi upaya pelestarian warisan budaya. Oleh karena itu, perlu dibuat wilayah peredam yang dapat mengham¬bat pengunjung agar tidak naik bersama-sama ke candi, yaitu dengan membuat taman wisata di lingkungan candi. Keberadaan taman wisata diharapkan membuat pengunjung akan tersebar ke berbagai penjuru taman. Dengan tersebarnya pengunjung akan mengurangi beban yang ditanggung oleh bangunan candi.

a)      Faktor dari Dalam
Faktor dari dalam biasanya disebabkan oleh keroposnya bangunan itu sendiri, seperti konstruksi dan bahan penyusunnya.

b)      Faktor dari Luar
pengaruh lingkungan biotik, abiotik, dan khernis. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik adalah tumbuhnya tanaman tingkat tinggi ( ilalang, perdu, pohon-pohon besar ) dan tanaman tingkat rendah (lumut, jamur, jamur kerak, dan algae).

c)      Aktifitas Manusia
baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Kerusakan disengaja seperti corat-coret, pencurian, pengotoran, batu penyusun jatuh karena dipanjat, sedangkan kerusakan tidak disengaja seperti terjadinya keausan batu pada lantai bangunan dan kerontokan. Kerontokan terjadi akibat pembersihan gulma pada batu candi dengan menggunakan sikat.

Dampak Negatif

Dampak negatif yang dapat ditemukan di Candi Borobudur setelah Candi itu dijadikan objek wisata adalah vandalisme, sampah, keausan batu-batu candi, kerontokan, retakan, dan rembesan air. Kegiatan vandalisme banyak jenisnya seperti memanjat-manjat dinding candi dan stupa, pencungkilan relief, corat-coret, dan peledakan. Sampah yang ditemukan di Candi Borobudur berupa kertas pembungkus, sisa makanan, plastik, puntung rokok, kotoran manusia, daun, biji-bijian, buah-buahan, pecahan botol, kaleng minuman, dan abu. Sampah yang ukurannya kecil dapat masuk ke sela-sela batu yang pada akhirnya menyebabkan penyumbatan pada saluran air. Selain dapat menyumbat saluran-saluran air, sampah berupa biji-bijian seperti biji jeruk, rambutan dan salak dapat tumbuh di sela-sela batu Candi Borobudur.

Di Candi Borobudur, ditemukan beberapa batu penyusun yang mengalami keausan tersebar pada lantai dan tangga candi. Hasil penelitian tahun 1980-an menunjukkan bahwa di Candi Borobudur ditemukan 801 blok batu yang mengalami keausan (Sutantio, 1985), sedangkan hasil pengamatan di tahun 2000 jumlah batu yang mengalami keausan menjadi 1.383 blok batu (Sadirin, 2002), berarti terjadi peningkatan kerusakan sebesar 582 blok batu. Jika dirata-rata, setiap tahun terjadi keausan sebesar 36 blok batu. Terjadinya keausan pada batu candi disebabkan oleh gesekan antara pasir yang menempel pada alas kaki pengunjung dengan bate candi.

Hasil percobaan yang dilakukan oleh Sukronedi dan teman pada tahun 2000 menunjukkan bahwa akibat penggosokan yang dilakukan pada saat pembersihan gulma pada batu-batu candi, menyebabkan kerontokan pada bate yang berbeda-beda tergantung pada alat yang digunakan. Pada percobaan tersebut, digunakan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat yang berbeda-beda yakni 3 cm, 2 cm, dan 1 cm. Luas bidang yang digosok adalah 100 cm2, tekanan penggosokan rata-rata 5 kg/cm2, serta lama penggosokan 10 menit dengan jumlah gosokan 100 kali gosokan.

Penggunaan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat yang berbeda juga menghasilkan kerontokan yang berbeda pula. Sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 3 cm menghasilkan kerontokan sebanyak 8,76 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 2,75 ml, sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 2 cm menghasilkan kerontokan sebanyak 9,45 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 3,25 ml, dan sikat ijuk dengan panjang bulu sikat 1 cm menghasilkan kerontokan 18,52 x 10-5 g/cm2 atau sama dengan 6,25 ml.
Hasil observasi lapangan, dari bulan Desember 2015, menemukan retakan-retakan yang terjadi pada batu-batu Candi Borobudur sebanyak 1.536 batu. Penyebab keretakan dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi beban yang harus ditanggung Candi Borobudur yang terdiri atas beban stabs dan beban dinamis, serta tumpuan tidak merata.
Salah satu faktor penting penyebab kerusakan Candi Borobudur adalah masalah air, terutama yang merembes pada batu-batu candi. Oleh karena itu, pemugaran yang dilakukan pada tahun 1973-1983 adalah kegiatan untuk mengatasi masalah air. Meskipun demikian, sampai sekarang masih dijumpai adanya rembesan air pada dinding candi. Hasil observasi, sampai dengan tahun 2002, ditemukan 112 lokasi rembesan yaitu 81 lokasi pada dinding lorong tingkat satu, 6 lokasi pada dinding lorong tingkat dua, 6 lokasi pada dinding lorong tingkat tiga, dan 19 lokasi pada dinding lorong tingkat empat.
Data Pengunjung Candi Borobudur

YEAR                               DOMESTIC                           FOREIGN                            TOTAL
1991                                1.592.884                                  241.536                          1.834.420
1992                                1.677.481                                  312.535                          1.990.016
1993                                1.742.242                                  310.886                          2.053.128
1994                                1.814.097                                  347.805                          2.161.902
1995                                2.509.707                                  325.149                          2.834.856
1996                                1.980.949                                  311.315                          2.292.264
1997                                1.991.404                                  283.818                          2.275.222
1998                                1.279.460                                  115.309                          1.394.769
1999                                1.764.934                                    86.258                          1.851.192
2000                                2.559.527                                  114.440                          2.673.967
2001                                2.345.158                                  111.136                          2.581.783
2002                                1.998.355                                  107.972                          2.106.327
2003                                2.006.317                                    62.776                          2.069.093
2004                                1.935.918                                    90.524                          2.026.442
2005                                1.935.231                                    57.545                          1.992.776
2006                                1.182.212                                    60.850                          1.243.062
2007                                1.681.122                                  299.443                          1.180.565

Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung Candi Borobudur semakin menurun, ini di sebabkan oleh ketidak nyamanan para wisatawan dan juga adanya pembelokan nilai fungsi candi yang merupakan tempat beribadah agama budha menjadi tempat wisata semata, sehingga tidak diperhatikan kebutuhan apa saja yang di butuhkan oleh para agama budha.

Candi Borobudur yang dijadikan Monumen mati telah menghilangkan nilai sakral Agama Buddha bagi penduduk dunia yang beragama Buddha, mereka tidak merasa perlu berkunjung ke Indonesia, sehingga para wisatawan yang datang pada umumnya merupakan wisatawan budaya, kalaupun yang berkunjung adalah wisatawan beragama Buddha, mereka tidak bisa melakukan puja bhakti sebagaimana mestinya.

Candi Borobudur dianggap sebagai Cagar Budaya dan monumen mati, sehingga para pengunjung tidak memperdulikan lagi kondisi kebersihan Candi seperti yang kita saksikan dimana pengunjung membawa makanan dan minuman serta membuang sampah yang tersebar dimana mana, juga mereka mendudukan anak kecil dipundak Arca Buddha sambil berfoto serta memperlakukan tempat suci tersebut sebagai tempat picnic dan merusak baik suasana spiritual maupun nilai moral yang bertentangan dengan keagungan Candi Borobudur itu sendiri.

Untuk mengatasi itu semua kita harus merubah struktur wisata nya terlebiih dahulu. Dari yang semula mebiarkkan para pengunjung bebas berfoto di candi tersebut hingga sampai para pengunjung hanya bisa melihat saja dan tidakk boleh memegang nya serta hanya boleh mefoto candi tersebut dengan jarak yang sedikkit agak jauh, yang bertujuan untk memulihkan candi Borobudur yang sekarang sudah mulai terkiis bebeatuan nya. Dan serta jiika memang candi tersebut ingin di sucikan kembali,, yaitu dengan cara menahan para wsata agar tidak masuk ke dalam area candi tersebut, dengan cara para wisata nya hanya boleh memasuki halaman candi dan tidak boleh memasuki area candi dalam.
Dan jika ada mayarakat atau wisatawan yang beragama budha ingin ber sembahyang disana, barulah di kasih masukk ke dalam area candi Borobudur tersebut, dengan catatan menunjukan KTP wisatawan atau makyarakat untuk memastikan bahwa benar dia ber agama budha atau tidak.
Dengan cara seperti itu adalah cara yang efetif untuk tetap mempertahankan candi Borobudur peniinggalan agama hindu budha yang masih berdiri kokkoh di Indonesia yang tapat nya di daerah jogja jawa tengah.

Daftar Pustaka :
http://madyaindriani.blogspot.co.id/ di akses pada tanggal 1/1/2016 pukul 12:00

Pendapat tentang : Krapf Hunziker, seorang pakar pariwisata. Sumber google di akses pada tanggal 1/1/2016 pukul 12:00

Kamis, 31 Desember 2015

folklore indonesia

Pengaruh Peradaban Budaya Banjar Terhadap Bahasa Pamali

Pendahuluan

Masyarakat Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan religi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.
Salah satu contoh adalah : Tradisi lisan Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya MelayuArab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adala h Madihin dan Lamut.
Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklore Banjar di Kalsel.
Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.
Dari berbagai bahasa banjar yang dipakai, bahasa-bahasa tersebut mengandung makna tersendiri, yang dimana kita akan bahas dalam budaya atau folklore di daerah banjar Kalimantan selatan
Berbicara masalah folklore daerah Banjar, maka kita akan berbicara pula tentang tradisi tutur yang terdapat pada masyarakat Banjar. Apa yang terdapat dalam folklore Banjar juga tidak lepas kaitannya dengan ajaran atau nasihat yang selalu dituturkan secara turun-temurun dengan ragam tujuan serta ragam budaya masyarakat yang mempengaruhinya.

Pendapat Fraze (dalam Polak, 1966) memandang bahwa setiap anggota masyarakat dalam dirinya memiliki kepercayaan kepada hal-hal gaib yang disebut magis sebagai sumber kepercayaan asal kepada yang gaib-gaib.

Berdasarkan pendapat Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 2002), folklore adalah suatu budaya kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun secara tradisional dalam versi berbeda, baik lisan maupun dalam contoh gerak, isyarat, atau alat pembantu pengingat.


Di sisi lain, manusia memilki kemampuan yang disebut religi yaitu perilaku yang bersifat religius. Berangkat dari pendapat ini memang tidak mengherankan apabila dalam folklore Banjar mengandung pengaruh-pengaruh budaya yang membentuk masyarakat itu sendiri sebagai kumpulan manusia-manusia yang terdiri dari individu, keluarga dan masyarakat. Adapun unsur budaya yang mempengaruhi tersebut adalah unsur religi atau agama, kepercayaan, maupun tata nilai yang bersifat positif. Kronologis lapisan budaya yang berpengaruh dapat diperinci pada keterangan di bawah ini:

• Unsur-unsur asli, yang terdiri atas agama Balian atau agama Balian atau agama Kaharingan serta unsur-unsur religi lainnya.

• Unsur Melayu dan Jawa Budha.

• Unsur Islam dengan segala manifestasinya di bawah raja-raja Banjar.

• Unsur modern/sekarang.

Kategorisasi Pamali Banjar kalimatan selatan

James Dananjaya (dalam Dundes, 1961:25-26) menulis: “takhyul adalah ungkapan tradisional
dari satu atau lebih syarat dan satu atau lebih akibat, beberapa syarat–syarat itu bersifat tanda sedangkan yang lain bersifat sebab”.

Pamali yang dianggap takhyul ini sangat luas penyebarannya di kalangan masyarakat. Pamali merupakan takhyul dalam salah satu golongan besar yang berhubungan dengan masalah hidup manusia sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Wayland D. Hand dalam bukunya The Frank C. Brown Collection of North Carolina Folklore.

Sebagaimana fungsi folklor ini sendiri secara umum telah dikemukan oleh Bascom dalam Danandjaja (2002:32), folklor lisan pada umumnya memiliki fungsi sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, alat pendidikan anak dan masyarakat, alat pemaksa dan pengawas norma masyarakat agar selalu dipatuhi.

Adapun salah satu folklor dari Kalimantan Selatan ini adalah sastra lisan berbentuk kalimat larangan atau pantangan (pamali). Dalam kalimat pamali ini mengandung nilai-nilai tradisional maupun modern yang sangat tepat untuk dilestarikan keberadaannya meskipun sebagian besar kalimat pamali terasa mengandung ketakhayulan, namun justru di balik “kepamalian” yang ada dalam tuturan lisan masyarakat Banjar memiliki sesuatu yang tersembunyi dari segi tujuan atau manfaat yang disesuaikan dengan pengadabtasian power nalar yang ada.

Berdasarkan pendapat Hand ini pula penge kelompokan Pamali dalam masyarakat Banjar dibagi 12 kategori, yaitu:

Contoh kalimat pamali ini adalah:

Berhubungan dengan kehamilan.

Contohnya adalah:

1.      Urang batianan pamali bajalan malam, diganggu urang halus.
yang arti nya (Orang hamil jangan keluar malam, diganggu makhluk halus).

2.      Urang batianan pamali barabah di galuling, anaknya bisa tahalang
yang arti nya (Orang hamil jangan berbaring di guling, anaknya tidak bisa keluar karena posisinya melintang).

3.      Urang batianan pamali makan sambil badiri, pas tabahera
yang arti nya (Orang hamil jangan makan sambil berdiri, saat melahirkan bisa buang air besar).

• Berhubungan dengan kelahiran.

Contohnya adalah:

1.      Pamali duduk di tangga, bisa ngalih baranak
Yang arti nya (Jangan duduk di tangga, nanti sulit melahirkan).

2.      Pamali maandak wancuh di dalam panci nang batutup, bisa ngalih baranak
Yang arti nya (Jangan meletakkan sendok nasi di dalam panci tertutup, nanti sulit melahirkan).

3.      Pamali mangantup lawang, lamari atawa lalungkang, parahatan ada nang handak baranak, bisa ngalih baranak
Yang arti nya (Jangan menutup pintu, lemari atau jendela saat ada yang mau melahirkan, nanti sulit melahirkan).

• Berhubungan dengan masa anak-anak.

Contohnya adalah :

1.      Kakanakan imbah basunat pamali kaluar rumah, kaina lambat waras
Yang arti nya (Anak-anak yang baru dikhitan jangan keluar rumah, nanti tidak cepat sembuh).

2.      Kakanakan pamali bapenanan di barumahan, bisa babisul kapala
Yang arti nya (Anak-anak jangan bermain di kolong rumah, nanti bisa tumbuh bisul di kepalanya).

3.      Kakanakan nang balum bisa bajalan pamali mancaraminakan kakanakan nang balum bisa bajalan, kaina kakanaknya pangguguran
Yang arti nya (Anak kecil yang belum bisa berjalan jangan mencerminkan anak kecil yang belum bisa berjalan, nanti anak tersebut akan sering terjatuh).

• Berhubungan dengan pekerjaan rumah.

Contohnya adalah :

1.      Imbah makan pamali langsung barabah, bisa pangoler
Yang arti nya (Setelah makan jangan langsung berbaring, pemalas).

2.      Pamali mamirik sambal bagagantian, kaina sambalnya bisa kada nyaman
Yang arti nya (Jangan mengulek sambal berganti-ganti, nanti rasa sambalnya tidak enak).

3.      Pamali mancatuk burit urang, bamasak bisa kada nyaman
Yang arti nya (Jangan memukul pantat orang, memasak bisa tidak enak)

• Mata pencaharian atau rezeki.

Contohnya adalah :

1.      Pamali bagandang di meja atawa di tawing, bisa magiaw hutang
Yang arti nya (Jangan menabuh meja atau dinding, bisa memanggil hutang).

2.      Pamali bahamburan nasi waktu makan, rajaki bisa tahambur-hambur ka lain
Yang arti nya (Jangan menghamburkan nasi saat makan, rezekinya bisa berhamburan ke tempat lain).

3.      Pamali bahera waktu sanja, hilang rajakinya
Yang arti nya (jangan buang air besar saat senja hari, hilang rezekinya),

• Berhubungan sosial.

Contohnya adalah :

1.      Pamali mahirup gangan di wancuh, calungap sandukan
Yang arti nya (Jangan menyeruput kuah sayur di sendok nasi, suka menyela pembicaraan orang).

• Berhubungan dengan cinta kasih.

Contohnya adalah :

1.      Babinian bujang bujang pamali maandak wancuh di dalam panci nang batukup, bisa lambat balaki
Yang arti nya (Bujangan jangan meletakkan sendok nasi di dalam panci yang bertutup, sebab akan lama mendapatkan jodoh).

• Berhubungan dengan kematian.

Contohnya adalah :

1.      Pamali bacaramin sambil barabah, bisa mati ditembak pater
Yang arti nya (Pantang bercermin sambil berbaring, bisa ditembak petir).

2.      Pamali bagambar batiga, bisa tapisah, nang di tangah badahulu mati
Yang arti nya (pantang berfoto bertiga, bisa terpisah, yang di tengah duluan mati).

• Berhubungan dengan pemeliharaan tubuh.

Contohnya adalah :

1.      Kakanak nangkuitannya tulak haji pamali mangibah kalambu, kaina kuitannya kaributan di tangah laut
Yang arti nya (Anak-anak yang orang tuanya pergi haji pantang mengibaskan kelambu, nanti orang tuanya kena badai topan di laut).

• Berhubungan dengan kehidupan rumah tangga.

Contohnya adalah:

1.      Pamali diumpati urang bacaramin, kaina laki/bini bisa dirabuti urang
Yang arti nya (Pantang diikuti orang bercermin, nanti suami/istri bisa direbut orang).

• Berhubungan dengan alam gaib.

Contohnya adalah :


1.      Pamali badadakuan malam, bisa dimainakan hantu
Yang arti nya (Pantang bermain daku di malam hari, bisa dimainkan hantu).

2.      Pamali bajalan bajejer, bisa taranjah hantu
Yang arti nya (Pantang berjalan berjejer, bisa ditabrak hantu).

• Berhubungan dengan agama atau religi.

Contohnyaadalah :

1.      Pamali badadakuan malam, bisa dimainakan hantu
Yang arti nya (Pantang bermain daku di malam hari, bisa dimainkan hantu).

Demikianlah, ke-12 kategori ini memang tidak bisa dipisahkan dari kepercayaan dan budaya masyarakat Banjar yang menjadi latar belakang munculnya kalimat pamali itu sendri.

Oleh karena itu tak mengherankan fungsi pamali ini selain sebagai sarana pendidikan anak-anak dan remaja agar memiliki adab dan adat yang sesuai dengan tuntutan lingkungan sekitar yaitu Banjar atau bisa pula sekadar hiburan semata dalam artian kalimat pamali tersebut digunakan untuk hiburan karena alasan tertentu yang ada dalam kalimat yang dilantunkan oleh para tetua “Banjar” juga sekaligus sebagai penebal emosi keagamaan atau kepercayaan.

Hal ini disebabkan manusia yakin akan adanya kekuatan supranatural yang berada di luar alam mereka. Selain itu, masyarakat Banjar memang pada umumnya sangat kental akan pengaruh agama Islam dan kepercayaan lainnya.

Penutup

Pamali sebagai salah satu folklor lisan daerah Banjar ini memang pantas untuk dilestarikan sebagai aset daerah karena mengandung fungsi tertentu sekaligus refleksi atau mencerminkan salah satu sisi budaya yang dimiliki masyarakat Banjar.


Dengan demikian lewat pendokomentasian pamali Banjar sebagai salah satu fenomena folklor Banjar yang untuk sekaran sangat minimalis penggaliaannya ini maka diharapkan akan mampu membendung interpolasi masyarakat Banjar terhadap budaya dan lingkungannya dari generasi ke generasi.


Kesimpulan

Dari kesimpulan di atas bahwa daerah banjar alimantan selatan mempunyai tutur kata bahasa yang sebagai mana di jadikan kode atau isarat buat masyarakat nya untuk tidak melakukan yang di larang sebagai mana oleh adat istiadat orang sana.

Serta disana juga mengutamakan tradisi atau kepercayaan yang di larang dari nenek moyang nya, dan apabila salah satu mayarakat nya melanggar atau tidak nurut untuk di bilangin nya, itu akan di biarkan karna memang biyar yang maha kuasa yg menghukum nya.


Saran

Tetap terus pertahan an tradisi-tradisi budaya kita agar supaya budaya dan trads yang dimly suatu daerah tida akan hilang atau d ambil oleh Negara lan atau budaya lain













Daftar Pustaka

· Dalam/bukunya/The Frank C.Brown/Collection/of/North/Carolina/Folklore.
· Dalam/buku/Polak,thn/1966
  Dalam/buku/Danand/jaja,thn/2002

· Dalam/buku/Dundes,thn/1961:25-26