Tampilkan postingan dengan label Vita Nurani Alawiyah - Kelas A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vita Nurani Alawiyah - Kelas A. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Januari 2016

Tugas-2 Solusi UNJ untuk Pariwisata Indonesia

Pengembangan Wisata Sejarah di DKI Jakarta

Definisi Pariwisata
Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.
Definisi yang lebih lengkap,turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan,minuman dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan,pengalaman baru dan berbeda lainnya.
Banyak negara bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal.
Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Definisi Pengembangan Menurut Ahli
Menurut Lanya (1995) definisi mengenai pengembangan yaitu, “Pengembangan adalah memajukan dan memperbaiki atau meningkatkan sesuatu yang telah ada”. Dalam bukunya berjudul “ Dasar-dasar pariwisata”, Gamal Suwantoro (1997), menyatakan pengembangan bertujuan untuk mengembangkan produk yang  pelayanan yang berkualitas, seimbang, bertahan. Berdasarkan definisi di atas, yang dimaksud dengan strategi pengambangan adalah upaya-upaya yang dilakukan dengan tujuan memajukan, memperbaiki, dan meningkatkan kondisi kepariwisataan suatu obyek dan daya tarik wisata sehingga mampu menjadi mapan dan ramai untuk dikunjungi oleh wisatawan serta mampu memberikan suatu manfaat baik bagi masyarakat di sekitar obyek dan daya tarik dan lebih lanjut akan menjadi pemasukan bagi pemerintah.

DKI Jakarta tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, DKI Jakarta juga mempunyai objek wisata bersejarah yang patut dikunjungi . DKI Jakarta dahulu bernama Batavia, sebagai pusat pemerintahan di masa penjajahan Belanda, beberapa tempat dijadikan sebagai area penting dalam roda pemerintahan dan perekonomian saat itu, seperti kantor gubernur, pelabuhan, benteng sampai penjara.

1.      Museum Fatahillah
Di dalam museum, kita bisa melihat beragam koleksi sejarah seperti prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara, mimbar Masjid Kampung Baru dan juga keramik antik dari China sampai Eropa. Selain itu, Museum Fatahillah juga memiliki koleksi lebih dari 1000 judul buku yang ditulis dalam bahasa Melayu, Belanda, Inggris dan Arab.
Namun sayangnya minat para wisatawan dalam mengunjungi museum ini masih minim, dikarenakan kurangnya promosi , fasilitas penunjang tersedia, dan kurangnya kebersihan di area tersebut.  Menurut saya minat para pengunjung bisa ditingkatkan melihat banyaknya animo masyarakat yang datang ke tempat tersebut walau hanya sekedar berfoto riya atau jalan-jalan tanpa minat untuk mengetahui arti sejarah yang ada di dalam museum tersebut.  Solusinya saya sebagai perwakilan dari Universitas Negeri Jakarta akan berkordinasi dengan Duta Pariwisata DKI Jakarta yang notabene berasal dari kaum muda untuk mempromosikan tempat ini, misalnya dengan dibuat acara yang menarik seperti pertunjukkan yang dapat mengenalkan sejarah yang ada dalam museum tersebut, selain itu saya bersama teman-teman akan melakukan kegiatan gerakan anti sampah, bekerja sama dengan pemprof DKI dalam perbaikan fasilitas kebersihan.

2.      Pelabuhan Sunda Kelapa
Dikenal juga sebagai Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal kota Jakarta saat ini. Dahulu, tempat wisata sejarah ini adalah pelabuhan penting karena lokasinya yang strategis dan berada di jalur perdagangan Asia.          
Saat ini, jika berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa, kita bisa menikmati pemandangan cantik. Saat sore menjelang senja, kapal-kapal berjajar dengan latar langit memerah akan membuatmu tak berhenti membidikkan kamera. Jangan lupa menikmati sajian seafood segar yang banyak dijual di sekitar kawasan palabuhan.
Permasalahannya adalah masih sulitnya akses transportasi umum menuju Sunda Kelapa, kebersihan dan perawatan fasilitas pelabuhan yang pernah berjaya di masa VOC ini. Menurut saya akses  transportasi ini bisa terhubung dengan trans Jakarta (Busway) atau paling tidak bisa memberdayakan warga setempat untuk menjadi tukang sepeda atau motor dari halte busway terdekat. Setibanya di pelabuhan pengunjung dapat merasakan bahwa tempat ini merupakan salah satu pelabuhan tersibuk pada masanya dengan melihat peninggalan kapal-kapal maupun kapal-kapal yang masih beroperasi dan aktivitas nelayan pada saat ini. Peluang yang ada disini tidak hanya wisata sejarah , bisa juga didirikan rumah makan seafood yang ikannya berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat. Dengan ini diharapkan bahwa pengunjung bisa menikmati dari awak hingga akhir pengalaman berwisata ke pelabuhan Sunda Kelapa.

3.      Monas ( Monumen Nasional )
Di ruang bawah monumen terdapat museum diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa perjuangan merenut kemerdekaan hingga masa orde baru . juga terdapat ruang kemerdekaan dimana kita dapat mendengarkan rekaman suara bung Karno saat membaca naskah proklamasi di pagi hari tanggal 17 Agustus 1945. dengan lift yang berkapasitas 8 orang, pengunjung dapat mencapai puncak monumen dan menyaksikan panorama kota Jakarta.

Taman di sekitar monas saat ini menjadi lebih sejuk, bersih dan rapi dengan aneka tumbuhan hijau serta adanya satwa rusa totol yang memberi keindahan alam tersendiri. Pada hari minggu pagi banyak masyarakat yang memanfaatkan kawasan ini untuk berolahraga nersama keluarga atau berkeliling dengan menggunakan delman. (indotravelers.com)
Monumen Nasional ( Monas ) merupakan ikon DKI Jakarta , belum lengkap rasanya mengunjungi Jakarta kalau tidak mampir ke Monas atau paling tidak sekedar melintas di kawasan ini. Sejauh ini monas tidak kehilangan pengunjungnya selain karena tempatnya yang strategis Monas menjadi tujuan wisata yang murah meriah. Namun, sayangnya tempat wisata murah meriah ini masih banyak ditemui kendala, misalnya sampah yang berserakan dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disembarang tempat. Yang seharusnya ditingkatkan adalah fasilitas kebersihan atau tempat sampah disetiap titik strategis, pengelolaan pedagang kaki lima yang disediakan tempat seperti kedai-kedai makanan yang tempatnya strategis. Di harapkan Monas tidak hanya menjadi tujuan wisata, tourist domestik saja melainkan juga wisatawan internasional.

4.      Museum Nasional ( Museum Gajah )
Di museum ini tersimpan koleksi benda pra-sejarah seperti alat-alat yang terbuat dari batu, tulang, tanduk dan kerang. Juga terdapat berbagai koleksi benda - benda keramik abad 5 hingga 15 yang berasal dari daratan Asia, Eropa maupun Persia.

Berbagai benda relief sejarah yang berasal dari abad 16 hingga 19 tersimpan dengan rapi, disamping koleksi perabotan peninggalan orang Belanda. Terdapat pula koleksi perhiasan emas, berlian serta batu mulia, pusaka dan singgasana para raja serta berbagai perabot yang terbuat dari emas milik bangsawan masa lalu.
Melintas dikawasan Monumen Nasional seringkali luput dari pandangan adalah Museum Nasional. Letaknya berada tepat bersebrangan dengan Monas. Mungkin, tempat ini hanya menjadi tujuan wisata sejarah anak-anak SD saja sejauh ini, padahal di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan penting yang menunjukkan kekayaan Nusantara. Promosi adalah salah satu bagian terpenting agar museum ini tisak kehilangan reputasinya. Promosi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari media sosial sampai dengan mendukung gerakan-gerakan wisata museum ke berbagai kalangan khususnya anak muda atau pelajar yang bertujuan agar mereka makin mencintai dan bangga akan kekayaan negeri ini.

5.      Museum Proklamator
Terletak di halaman gedung perintis kemerdekaan, Jl. Proklamasi No. 56 yang semula merupakan rumah kediaman Ir. Soekarno presiden RI pertama. Monumen ini didirikan pada tahun 1980 dengan patung Soekarno dan Moh Hatta terbuat dari perunggu yang masing - masing berukuran 46 meter dan 43 meter dengan berat 1-2 ton untuk setiap patungnya. Di depanya terdapat replika naskah proklamasi dari perunggu dengan ukuran 60 x 90 Cm yang merupakan pembesaran 200 kali dari ukuran aslinya.
Museum Proklamator mungkin sering kita dengar, tapi animo masyarakat berkunjung ke museum masih sedikit. Sebagai peninggalan proklamator RI tentunya yang menjadi sasaran utama wisata ini adalah kalangan pemuda. Akses transportasi menuju tempat ini tidak sulit karena posisinya ada di pinggir jalan. Jadi alasan transportasi tidak masuk untuk tempat yang satu ini. Yang utama adalah promosi untuk tempat ini melalui berbagai cara media sosial, massa, dan publikasi lainnya. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka museum proklamator tidak hanya dikunjungi pada tanggal 17 Agustus saja.

6.      Gedung Kesenian Jakarta
Bangunannya bergaya neo-renaisance yang didirikan pada tahun 1821 adalah sebagai gedung kesenian atau pada zaman belanda namanya Schouwburg. Di gedung ini sering diadakan pagelaran kesenian baik tradisional maupun seni kontemporer dan modern.
Gedung ini letaknya tidak jauh dari kawasan pasar baru Jakarta, sehingga kita dapat menemukannya dengan mudah. Tidak hanya sekedar  wisata sejarah , gedung ini sampai sekarang dijadikan tempat pentas drama berbagai musisi teater, sehingga jika berkunjung kita dapat merasakan berbagai pengalaman tempo dulu hingga jaman sekarang, sekali lagi promosi dan pemeliharaan fasilitas menjadi poin penting agar gedung ini tidak ditinggalkan oleh para wisatawan.

7.      Gedung Arsip Nasional
Dibangun oleh Renier de Klerk seorang anggota dewan Hindia Belanda yang kemudian diangkat menjadi Gubernur jenderal (tahun 1777 - 1780) sebagai rumah peristirahatan di Molenvelt West. Bangunan ini selanjutnya dijadikan gedung arsip nasional dan terletak di Jl. Gajah Mada No. 111. Arsitektur dan perabotan rumah yang ada di dalamnya masih tetap dipertahankan seperti aslinya.
Pemeliharaan gedung Arsip Nasional ini cukup baik hingga sekarang, sayangnya minat wisatawan mengunjungi tempat ini masih kurang, promosi yang baik dan penambahan acara-acara yang lebih menarik, misalnya denga diadakannya acara kunjungan museum yang memasukkan gedung Arsip Nasional sebagai salah satu destinasinya, diharapkan ini bisa menambah animo masyarakat untuk tidak sekedar berwisata namun, melihat secara langsung arip-arsip penting negeri ini yang perlu dijaga.

8.      Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno di mana pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kriste  Protestan.
Lokasi kompleks masjid ini berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional(Monas). Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jamaah.
Masjid Istiqlal merupakan salah satu ikon rumah ibadah terkenal di DKI Jakarta. Masjid terbesar di Asia ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk mengenal salah satu mahakarya arsitektur Asia. Pengunjung tempat ibadah ini tidak hanya berasal dari kalangan muslim, banyak wisatawan asing dan non muslim datang ke tempat ini untuk mengenal dan mempelajari peninggalan islam yang satu ini. Kendala yang sering dihadapi pengunjung adalah sempitnya lahan parkir di area masjid. Banyak tempat yang masih terkunci sehingga menyulitkan pengunjung untuk memarkirkan kendaraannya. Solusi yang tepat adalah membuka akses lahan yang masih tertutup. Namun, sebelumnya lahan tersebut harus di tata atau dibersihkan karena kondisinya yang terlihat kotor. Sehingga para pengunjung tidak lagi kesulitan dan merasa aman dalam memarkirkan kendaraannya.

9.      Gereja Katedral
Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuahgereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmansdan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.
Pada malam natal, 24 Desember 2000, Gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom.
Gereja Katedral merupakan tempat ibadah terbesar umat katolik di Jakarta. Tragedi bom di malam natal tahun 2000, tentu membekas bagi sebagian orang. Oleh karena itu, agar para wisatawan merasa aman saat berkunjung ke gereja ini diperlukan pengamanan memadai untuk area didalam maupun disekitar gereja sehingga isu keamanan tidak menjadi penghalang bagi wisatawan untuk berkunjung.

10.  Museum Wayang
Terletak di jalan Pintu Besar Utara No. 27, sebelah barat dari musium sejarah Jakarta. Menempati lahan bekas gereja Belanda Oude Hollandsche Kerk (1640 - 1732) dan gereja Niew Hollandsche Kerk (1736 - 1808) yang kemudian hancur akibat gempa bumi.

Bangunan yang nampak saat ini didirikan pada tahun 1912 sebagai gudang milik perusahaan Geo Wehry. Setelah beberapakali berpindah kepemilikan serta berubah fungsi, akhirnya pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan sebagai Museum Wayang.

Koleksi yang terdapat di museum Wayang berupa enis dan bentuk wayang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang rumput, wayang beber, topeng - topeng serta perangkat gamelan. Wayang serta boneka dari berbagai negara seperti Cina, Inggris, Kamboja, Malaysia dan Thailand ikut melengkapi koleksi di museum ini.
Letaknya tidak jauh dari Museum Fatahillah, Museum Wayang menyimpan berbagai koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia maupun Internasional, sayangnya museum ini masih sepi pengunjung. Sebagian wisatawan tidak menyadari keberadaan museum ini karena kurangnya promosi. Peningkatan promosi dari berbagai media baik cetak, sosial amat penting karena museum ini tidak hanya menyimpan sejarah tapi juga sebagai pengenalan hasil karya asli Indonesia, baik terhadap anak bangsa maupun wisatawan Internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Nama: Vita Nurani Alawiyah ( 4423154592 )
Kelas: A Usaha Jasa Pariwisata




Tugas-3 Folklore Indonesia

Cindelaras, Cerita Rakyat dari Jawa Timur

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas 3 ini dengan baik. Tujuan penulisan tugas ini dibuat sebagai salah satu syarat memenuhi Tugas 3 mata kuliah Sejarah Indonesia mengenai Folklor Indonesia dengan judul “Cindelaras, Cerita Rakyat dari Jawa Timur.” Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Drs. M. Shobirienur Rasyid selaku dosen Sejarah Indonesia Usaha Jasa Pariwisata yang telah banyak membantu dan memberikan limpahan ilmu berguna kepada penulis, serta kedua orang tua yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Penulis menyadari bahwa penulisan Tugas 3 ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mohon kritik, saran dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang.
Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya dan dapat memberikan informasi lebih.
Jakarta, Januari 2016
      
Penulis


PEMBAHASAN
A. Folklor
Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Bidang studi yang mempelajari folklor disebut folkristika. Istilah filklor berasal dari bahasa inggris, folklore, yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846. Folklor berkaitan erat dengan mitologi.
Kata folklor berasal dari bahasa inggris, yaitu folk dan lore. Kata Folk memiliki arti sama dengan kata Kolektif. Menurut Alan Dundes arti kata Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan sehingga dapat di bedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Sementara itu kata lore berarti tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang di wariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang di sertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Folklor mempunyai empat fungsi. Pertama foklor sebagai sistem proyeksi, yaitu sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kelompok kedua folklor sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan Lembaga-lembaga kebudayaan, ketiga folklor sebagai alat pendidikan anak-anak, contoh foklor Sebagai alat pendidik adalah foklor lisan (nyanyian anak) dari jawa yaitu wajibe dadi murid, dan ke empat Folklor sebagai alat pemaksa norma agar masyarakat selalu mematuhinya.
Folklor memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan kebudayaan lainnya. Ciri-ciri folklor antara lain :
1) penyebaran dan pewarisannya secara lisan
2) bersifat tradisional. Hal ini terlihat dari sistem penyebarannya yang bersifat tetap
3) versinya berbeda-beda karena penyampaiannya secara lisan memungkinkan adanya perubahan di dalamnya
4) bersifat anonim karena tidak di ketahui nama penciptanya
5) memiliki bentuk yang biasanya mempunyai rumus atau berpola. Hal ini terlihat dalam cerita rakyat yang selalu mennggunakan kata Klise, seperti "menurut empunya cerita"... Sebagai kata pembukaan
6) memiliki suatu fungsi dalan kehidupan masyarakat
7) Bersifat Pralogis karen logikanya sendiri tidak sesuai dengan logika umum
8) Menjadi milik bersama masyarakat tertentu hal ini karena penciptanya pertama tidak di ketahui lagi. Maka semua anggota masyarakat itu merasa memilikinya
9) Pada umumnya bersifat polos dan lugu meskipun sering kali terlihat kasar atau terlalu sopan.

Menurut Jan Harold Brunvard, ahli folklor dari Amerika Serikat, folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu:
1.)    Folklor lisan yang bentuknya murni lisan, contoh folklor lisan seperti bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat.
a)      Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Seperti: logat,dialek, kosa kata bahasanya, julukan.
Fungsi bahasa rakyat
Fungsi bahasa rakyat sedikitnya ada empat yakni:
-  Untuk memberi serta memperkokoh identitas folklornya (slang, cant, shop salk, argot, jargon, nama gelar, bahasa bertingkat, colloquial, onomatopoetic, dan onomastis)
 -  Untuk melindungi folk pemilik folklore itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa (slang, bahasa rahasia, dan cant);
- Untuk memperkokoh kedudukan folknya pada jenjang pelapisan masyarakat (gelar atau bahasa bertingkat);
-  Untuk memperkokoh kepercayaan rakyat dari folknya (sirkumlokusi dan julukan atau alias yang diberikan kepada anak-anak yang buruk kesehatannya).
Bentuk-bentuk folklore bahasa rakyat; Logat, Slang, Pemberian nama dan julukan, Gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional, Bahasa bertingkat (speech level), onomatopoetis(onomatopoetic), onomastis.
-          Logat
Bentuk foklor Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat adalah logat (dialect) bahasa-bahasa Nusantara, misalnya logat jawa dari Indramayu, yang merupakan bahasa Jawa Tengah yang telah mendapat pengaruh bahasa Sunda, atau logat bahasa Sunda dari Banten, ataupun logat bahasa Jawa Cirebon, dan logat bahasa Sunda Cirebon.
-          Slang
Bentuk lain bahasa rakyat adalah slang. Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language (1959), asal slang adalah kosa kata dan idiom para penjahat gelandangan atau kolektif khusus. Maksudnya diciptakannya bahasa slang ini adalah untuk menyamarkan arti bahasa terhadap orang luar. Pada masa kini bahasa slang dalam arti khusus itu (bahasa rahasia) disebut cant. Di Jakarta cant adalah istilah-istilah rahasia.
-          Gelar kebangsawanan
Bentuk folklore lainnya yang juga termasuk dalam golongan bahasa rakyat adalah gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional.Gelar kebangsawanan kerajaan Banjar seperti pola lapisan sosial kerajaan lainnya di nusantara menunjukkan pola status sosial menurut keturunan.

-          Bahasa Bertingkat
Bentuk lain dari folklore bahasa rakyat adalah bahasa bertingkat (speech level). Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk kata ganti orang, yang tetap digunakan sampai sekarang.


(b) Ungkapan tradisional adalah kelimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang. Peribahasa biasanya mengandung kebenaran dan kebijaksanaan. Seperti, peribahasa, pepatah.
(c) Pertanyaan tradisional (teka-teki). Menurut Alan Dundes, teka-teki adalah ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan, dan jawabannya harus diterka.
(d) Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah memiliki bentuk tertentu. Fungsinya sebagai alat kendali sosial, untuk hiburan, untuk memulai suatu permainan, mengganggu orang lain. Seperti: pantun, syair, sajak.
(e) Cerita prosa rakyat, merupakan suatu cerita yang disampaikan secara turun temurun (dari mulut ke mulut) di dalam masyarakat.Seperti: mite, legenda, dongeng.
(f) Nyanyian rakyat, adalah sebuah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang-tembang tradisional. Berfungsi rekreatif, yaitu mengusir kebosanan hidup sehari-hari maupun untuk menghindari dari kesukaran hidup sehingga dapat manjadi semacam pelipur lara. Seperti: lagu-lagu dari berbagai daerah.

       2.) Folklor sebagian lisan yaitu folklor yang merupakan campuran unsur lisan dan    bukan lisan, Contoh folklor sebagian lisan seperti:
a) Kepercayaan rakyat (takhyul), kepercayaan ini sering dianggap tidak berdasarkan logika karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, menyangkut kepercayaan dan praktek (kebiasaan). Diwariskan melalui media tutur kata.
(b) Permainan rakyat, disebarkan melalui tradisi lisan dan banyak disebarkan tanpa bantuan orang dewasa. Contoh: congkak, teplak, galasin, bekel, main tali,dsb.
(c) Teater rakyat
(d) Tari Rakyat
(e) Pesta Rakyat
(f) Upacara Adat yang berkembang di masyarakat didasarkan oleh adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan masyarakat setempat. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada mereka.

3.)    Folklor bukan lisan merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Biasanya meninggalkan bentuk materiil(artefak). Yang termasuk dalam folklor bukan lisan:
(a)  Arsitektur rakyat (prasasti, bangunan-banguna suci),Arsitektur merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
(b)     Kerajinan tangan rakyat, Awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
(c)      Pakaian/perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah
(d)     Obat-obatan tradisional (kunyit dan jahe sebagai obat masuk angin)
(e)      Masakan dan minuman tradisional
Selain itu seperti arsitektur rakyat, kerajinan tangan, dan pakaian juga termasuk contoh folklor bukan lisan.


B.  Folklor Cindelaras dari Jawa Timur
Cindelaras adalah cerita rakyat yang berasal dari Jawa Timur. Kisah ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang bernama Cindelaras dan ayam jantannya.Cindelaras mempunyai ayam yang tidak terkalahkan. Ayam inilah yang mempertemukan Cindelaras dan Raden Putra, ayah dari Cindelaras.



Baginda Raden Putra, raja kerajaan Jenggala seorang raja yang termasyur. Sayang, kadang-kadang sikapnya kurang bijaksana. Misalnya dalam istrinya yang kedua. Sang Baginda sering menurut saja, bagaikan seekor kerbau dicocok hidungnya.

Istri kedua sang Prabu memang cantik rupawan. Namun, hatinya tidak seindah wajahnya. Wanita ini kerap dikuasai rasa dengki yang keterlaluan. Lebih-lebih dalam masalah dengan istri pertama Baginda, yaitu sang Permaisuri.

"Aku seharusnya yang pantas menjadi permaisuri!" pikir wanita pendengki itu setiap kali. "Satu-satunya jalan ialah dengan menyingkirkan perempuan musuhku itu! sebelum cita-citaku ini menjadi kenyataan, takkan tenteram perasaanku." Padahal sebenarnya Permaisuri itu orang baik, juga terhadap istri kedua.

Pada suatu hari, istri kedua melaksanakan rencana yang telah berhari-hari dipikirkannya. Ia berpura-pura jatuh sakit. Sakitnya sepertinya parah sekali.

Baginda Raden Putra merasa panik melihat istrinya tampak menderita seperti itu. Ia berusaha dengan segala cara supaya istrinya bisa sembuh kembali.


Dibutuhkan tabib dan dukun untuk menolong wanita itu. Salah seorang dukun yang sebenarnya adalah orang suruhan istri kedua menjelaskan sebab-sebab penyakit istri kedua kepada Baginda.

"Sesungguhnya sakit Tuan Putri itu disebabkan perbuatan seseorang yang tidak menyukainya. Dia adalah Tuanku Permaisuri sendiri. Agaknya Tuanku Permaisuri merasa iri karena Baginda sangat menyayangi Tuan Putri. Itu sebabnya ia menaruh racun yang nyaris mematikan dalam makanan istri Paduka ini."

Mendengar laporan itu, tanpa menyelidiki lebih jauh, Baginda langsung meradang. Saat itu juga ia menyuruh Patih untuk membawa Permaisuri ke hutan dan membunuhnya di sana. Baginda bahkan tidak peduli bahwa saat itu Permaisuri sedang mengandung.

Patih adalah orang yang bijaksana. Ia tahu sifat Permaisuri. Ia juga tahu bagaimana perangai istri kedua. "Tidak mungkin Permaisuri sampai hati melakukan perbuatan keji, seperti yang dituduhkan istri kedua itu. Permaisuri orang baik. Sebaliknya istri kedua tidak bisa dipercaya. Sayang, Baginda terlalu mudah dipengaruhi oleh perempuan pendengki itu," pikir Patih.

Atas pertimbangan-pertimbangan itu, patih tidak sepenuhnya melaksanakan perintah Baginda. Permaisuri memang dibawanya ke sebuah hutan, namun Patih tidak membunuhnya.

Mulai saat ini, saya anjurkan Tuanku untuk tinggal di hutan ini. Berusahalah untuk bertahan sampai Tuanku melahirkan. Oleh kehendak Dewata, saya percaya pada suatu saat Tuanku akan dapat kembali ke istana," kata Patih kepada Permaisuri," kata Patih kepada Permaisuri, setibanya di sebuah hutan yang terletak jauh dari istana.

"Akan tetapi, bagaimana dengan Anda, Paman Patih?" Bukankah Baginda memerintahkan Anda membunuh saya? Baginda pasti akan menghukummu jika mengetahui Anda justru melindungiku," kata Permaisuri.

"Tentang hal itu, Tuanku tidak perlu khawatir. Saya bisa mengatasinya. Saya akan meyakinkan Baginda. Percayalah."

"Anda adalah orang yang bijaksana. Terima kasih, Paman Patih," sahut Permaisuri penuh rasa haru. "Kesempatan untuk tetap hidup yang Anda berikan tidak akan saya sia-siakan. Saya akan membesarkan anak saya. Semoga kelak dia dapat berjumpa dengan ayahnya."

Sejak saat itu Permaisuri hidup di hutan itu. Sampai pada suatu hari ia melahirkan seorang bayi laki-laki, yang kemudian dikenal dengan nama Cindelaras.

Cindearas tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan cerdas. Ia bersahabat dengan binatang-binatang penghuni hutan itu dan mengerti bahasa mereka.

Pada suatu hari, tengah ia bermain-main di hutan, seekor burung rajawali terbang ke arahnya. Burung itu terbang kian merendah, lalu menjatuhkan sesuatu. Oh, ternyata sebutir telur ayam hutan!

Cindelaras mengambil dan mengamati-amati telur itu. Rasanya telur itu lebih besar daripada ukuran telur pada umumnya.


"Hemmm, rajawali sepertinya sengaja menghadiahkan telur ini padaku. Akan kutetaskan telur ini!" katanya.

Lalu Cindelaras menemui ular, sahabatnya. Kepada ular besar itu Cindelaras minta bantuan untuk mengerami telur pemberian rajawali.
"Boleh saja. Tarauh telur itu," kata ular.
Cindelaras pun meletakkan telur di tengah gulungan badan ular yang panjang itu.

Beberapa waktu kemudian telur itu menetas.
"Wah, hasilnya seekor ayam jantan!" seru Cindelaras girang. Lalu dipeliharanya ayam itu sampai besar. Ternyata ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang nampak kekar dan kuat. Lebih mengherankan adalah bunyi kokoknya:
Kukuruyuuuuuuuk....
Jagone Cindelaras
Omahe tengah alas
Payone godhong klaras
Bapakne Raden Putra....
(Kukuruyuuuuuuk...Ayam jantan milik Cindelaras, Rumahnya di tengah hutan, Atapnya daun kelapa, Ayahnya bernama Raden Putra ....) 


Cindelaras tak habis heran mendengar bunyi kokok yang aneh itu. Oleh karena dorongan rasa ingin tahunya, kemudian ia menanyakan makna kokok ayam itu kepada ibunya.

Permaisuri tercenung mendengar pertanyaan putranya. "Agaknya saatnya sudah tiba," pikirnya. Lalu wanita itu menjelaskan asal-usulnya kepada Cindelaras. Juga, masalah yang menyebabkan sehingga ia terpaksa menyamar menjadi seorang perempuan desa dan hidup di tepi hutan.

"Wah, jadi aku ini anak seorang raja?" tanya Cindelaras terkejut.

"Benar, Anakku."
"Dan nama ayahku Raden Putra?"
"Ya"
"Kalau begitu aku harus menemui Ayah."
"Itu tidak mungkin, Nak," Permaisuri berusaha mencegah. "Pertama, ayahmu tidak akan percaya kepadamu. Kedua, kalau sampai tahu, istri muda ayahmu itu pasti tidak akan tinggal diam."

"Aku akan memikirkan caranya, Bu," jawab Cindelaras. "Yang pasti, aku tidak ingin Ibu terus begini. Hidup menderita, sementara perempuan licik itu enak-enakan hidup di istana."
 Permaisuri sadar, tekad anaknya tidak mungkin dicegah. 

Pada suatu hari Cindelaras turun ke desa dengan membawa ayam jantan peliharaannya. Setibanya di desa ia menantang adu ayam kepada pemilik-pemilik ayam jantan yang dijumpainya.

Tantangan Cindelaras memperoleh sambutan. Akan tetapi, ayam jantan Cindelaras ternyata sangat perkasa. Tak ada seekor ayam jantan pun dari desa itu yang bisa mengalahkannya.

"Wah, ayam ini kuat sekali!" puji orang banyak.

Berita tentang seorang anak laki-laki yang memiliki ayan jantan tak terkalahkan segera menyebar ke mana-mana. Hingga akhirnya sampai ke telinga Baginda Raden Putra. Kebetulan Baginda juga punya kegemaran menyabung ayam.

"Aku ingin mencoba kehebatan ayam milik anak itu," ujar Baginda. "Carilah dia, dan bawa ke hadapanku."
Cindelaras pun dibawa menghadap Baginda. Baginda mengamati Cindelaras dengan cermat. "Anak ini nampak tampan dan cerdas. Sepertinya bukan anak orang kebanyakan," pikir Baginda. "Siapa dia sebenarnya?"

Pada saat pandangannya beradu dengan sinar mata Cindelara, Baginda merasakan ada getaran aneh dalam dadanya. Baginda semakin merasakan sesuatu yang aneh.

"Hemmm, jadi kamu yang bernama Cindelaras, pemilik ayam jantan yang terkenal itu? Dan itukah ayammu?" tanya Baginda.

"Betul, Yang Mulia."

"Aku yakin ayamku akan bisa mengalahkan ayammu."

"Kita coba saja," tantang Cindelaras penuh rasa percaya diri." Namun, apa taruhannya, Paduka?"

"Apa sebaiknya menurut kamu?" balas Baginda.

"Saya tidak punya apa-apa. Maka taruhan saya adalah leher ini," jawab Cindelaras sambil menuding lehernya. "Kalau ayam saya kalah, Baginda boleh menyuruh penggal leher saya. Akan tetapi, kalau saya menang, Paduka harus rela menyerahkan separuh dari kerajaan Paduka."

Baginda Raden Putra makin terkesan melihat ketegasan dan keberanian Cindelaras. Tanpa berpikir panjang, beliau langsung menjawab, "Setuju! Dan jangan berlama-lama, sabung ayam kita mulai sekarang saja!"

"Baik, Baginda!" Cindelaras lalu melepaskan ayamnya ke arena. Demikian pula pembantu Baginda.

Dua ekor ayam jantan saling berhadapan. Sesudah saling menaksir kekuatan lawan, mereka pun mulai berlaga. Lagi-lagi ayam jantan Cindelaras menunjukkan keperkasaannya. Dalam waktu tidak terlama lama, ayam Baginda berhasil dibikinnya lari lintang pukang ke luar arena!

"Horeeee!" sorak para penonton mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

Baginda menatap tajam ke arah Cindelaras, lalu berkata, "Aku sudah kalah. Dan aku tidak akan mengingkari janjiku. Tetapi sebelum kuserahkan separuh kerajaan ini kepadamu, tolong katakan siapa dirimu sebenarnya."

Cindelaras balas memandang Raden Putra. Sesudah itu ia membungkuk dan membisikkan sesuatu kepada ayamnya. Saat itu juga ayam jantan itu menegakkan lehernya. Kemudian dengan suara nyaring hewan itu berkokok berulang-ulang:
Kukuruyuuuuuuuk....
Jagone Cindelaras
Omahe tengah alas
Payone godhong klaras
Bapakne Raden Putra...."

Baginda tersentak mendengar suara kokok ayam itu. Sementara dengan suara mantap Cindelaras berkata, "Paduka sudah mendengarnya sendiri, bukan? Nama saya adalah Cindelaras. Ibu saya adalah Permaisuri yang sah dari kerajaan ini. Ayah saya adalah Anda sendiri ....."

"Jadi ... kamu anakku? Tetapi bagaimana mungkin?" tanya Baginda terbata-bata.

Seseorang nampak maju lalu menghaturkan hormat kepada Baginda. Dia adalah si Patih. Patih yang bijaksana itu lalu menuturkan duduk perkaranya kepada Baginda.

"Jadi, ini semua karena ulah saya, Tuanku. Jika Tuanku menganggap saya bersalah, silakan menghukum saya."

"Oh, tidak...tidak!" tukas Baginda cepat. "Justru kamu sangat bijaksana, Paman Patih. Kalau saja waktu itu kau benar-benar membunuh Adinda Permaisrui..... ohh, betapa bodoh dan cerobohnya aku!" seru Baginda sambil menepuk jidatnya.

Baginda lalu menghampiri Cindelaras dan memeluknya erat-erat. "Maafkan ayahmu, Nak. Ayah menyesal sekali." Baginda nampak menyeka matanya. "Bagaimana keadaan ibumu?"

"Ibu, baik-baik saja. Dan Ibu tidak pernah membenci Ayah," jawab Cindelaras.

"Aku akan menjemput ibumu. Aku sendiri yang akan berangkat!"

Begitulah Raden Putra lalu berangkat ke hutan menjemput Permaisuri. Sementara itu, istri kedua dan komplotannya harus menanggung akibat kelicikan mereka. Mereka semua dijatuhi hukuman berat.

Permaisuri kembali diboyong ke istana, dan hidup bahagia di samping suami dan putranya yang tercinta.

PENUTUP

Kesimpulan
Cerita ini tergolong dongeng. Dongeng Cindelaras dan ayam jantannya sangat terkenal di daerah Jawa Timur. Dari dongeng ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mencuat. 
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menutupi kebenaran. Di samping itu, dongeng ini juga menggambarkan bahwa ketidakbijaksanaan bisa menyebabkan kecerobohan. Seperti yang dilakukan Raden Putra terhadap permaisurinya. Sebaliknya, ketabahan dalam menghadapi penderitaan dan keadaan yang sulit, pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan. 

Saran
Penulis menyadari bahwa penulisan tugas ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mohon kritik, saran dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membaca dan dapat memberikan informasi lebih.


DAFTAR PUSTAKA

http://wahyuchaem.mywapblog.com/

Nama: Vita Nurani Alawiyah ( 4423154592 )
Kelas: A Usaha Jasa Pariwisata