Tampilkan postingan dengan label NAMA : FIRMAN KURNIADI (4423155510) kelas -B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NAMA : FIRMAN KURNIADI (4423155510) kelas -B. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

tugas- 3 Foklor indonesia


Mengenal suku asmat  papua
Kata pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang.
   Puji syukur saya  panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan tugas sejarah yang ditugaskan kepada saya .Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada bapak shobirien nur rasyid atas bimbinganyalah dan dalam praktek belajar mengajar dapat menambahkan wawasan saya dalam keilmu sejara. dan pemberian tugas ini pun sebagai  tambahan ilmu kepada saya untuk lebih mengetahui mendalam kehidupan suku asmat dipapua
            Adapun tulisan ini telah saya kerjakan tak terlepas dengan bantuan berbagai pihak salah satunya ialah sumber-sumber referensi yang ada di internet. 
            Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki tugas ini untuk lebih baik lagi

pembahasan
             
 beragamnya kebudayaan indonesia tak lepas dari keberagaman suku adat yang terdapat di negara indonesia salah satunya yaitu, Suku Asmat suku  pedalaman papua.
 Suku  Asmat adalah sebuah suku asli yang tinggal di Papua. Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya diantara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Papua sendiri adalah propinsi paling timur Indonesia yang menyimpan kekayaan alam dan budaya. Dengan luas sekitar empat ratus dua puluh ribu kilometer persegi, Papua menjadi pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Selain luas, Papua juga berlembah, sebagian rawa- rawa dan hutan lebat. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya. Secara umum, kondisi fisik para anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.
Suku Asmat dikenal dengan kemampuanya dalam menghasilkan ukiran kayunya yang unik. Populasi kehidapan dan tempat tinggal suku Asmat terbagi menjadi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual.
Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

Mereka pun mempunyai Kondisi Alam yang sangat unik yang mereka tinggali. Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai. Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik. Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap hari juga pasang surut laut masuk kewilayah ini, sehingga tidak mengherankan kalau permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur. Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk diatas tanah yang lembek. Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat jalan ini. Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset,terutama saat hujan.
Namun walaupun sangat jauh dengan keadaan kehidupan hirup pikuk ibukota tak lepas pula dengan  adanya banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan. Namun hal ini sudah jarang terjadi bahkan hilang resmi dari ingatan.
Suku asmat tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut arafuru dan pegunungan jayawijaya, dengan medan yang lumayan berat mengingat daerah yang ditempati adalah hutan belantara, dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya. Kampung Asmat Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
Ciri Fisik Penduduk Asmat pada umumnya memiliki ciri fisik yang khas,berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya cukup tinggi. Rata-rata tinggi badan orang Asmat wanita sekitar 162 cm dan tinggi badan laki-laki mencapai 172 cm.

Mata Pencaharian Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dll. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah. Sehari-hari orang Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari makan, dengan cara berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan metode yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan suku Asmat tidak seperti masakan kita. Masakan istimewa bagi mereka adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan. Makanan Pokok orang Asmat adalah sagu,hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api.Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah,ditaburi sagu,dan dibakar dalam bara api.Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa.Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Dalam kehidupan suku Asmat “batu” yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya. Pola Hidup Satu hal yang patut ditiru dari pola hidup penduduk asli suku asmat,mereka merasa dirinya adalah bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka.
Cara Merias Diri Suku asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh.
Suku asmat sendiri pun mempunyai adat istiadat dalam tradisi sukunya Suku Asmat adalah suku yang menganut kepercayaan Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agama nenek-moyang mereka. Dan kini, masyarakat suku asmat telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam. dan Animisme yakni suatu ajaran dan praktek keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung. Bagi Suku Asmat ulat sagu merupakan bagian penting dari ritual mereka.Setiap ritual ini diadakan,dapat dipastikan,kalau banyak sekali ulat yang dipergunakan. Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai proses, yaitu :
  • Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.
  • Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
  • Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
  • Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa yang unik lainnya dimana anak babi disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.
Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang sampai 25 meter.Sampai sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal diatas pohon.
Adat istiadat suku Asmat mengakui dirinya sebagai anak dewa yang berasal dari dunia mistik atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore hari. Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di bumi di daerah pegunungan. Selain itu orang suku Asmat juga percaya bila di wilayahnya terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo, dewa itu bernama Fumuripitis. Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
  • Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
  • Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
  • Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini :
  • Mbismbu (pembuat tiang)
  • Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
  • Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
  • Yamasy pokumbu (upacara perisai)
  • Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
Roh-roh dan Kekuatan Magis
  • Roh setan
Kehidupan orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori :
1. Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2. Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
  • Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu, penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang curian atau pun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan.
Wanita Dalam Pandangan Suku Asmat
Simbolisasi perempuan dengan Flora & Fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat (pohon/kayu,kuskus,anjing,burung kakatua dan nuri,serta bakung),seperti kata Asmat diatas,menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan perempuan yang sangat berharga bagi mereka.Hal ini tersirat juga dalam berbagai seni ukiran dan pahatan mereka.Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan dan ukiran Asmat.Tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis Asmat yang tak terdengar dari dunia luar.
Derita perempuan Asmat menjadi pelakon tunggal dalam menghidupi suku tersebut.Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya,mulai dari mencari ikan,udang,kepiting,dan tembelo sampai kepada mencari pohon sagu yang tua,menebang pohon sagu,menokok,membawa sagu dari hutan,memasak dan menyajikan.Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat masak termaksud mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan minum keluarga.
Sementara itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang disediakan istrinya,mengisap tembakau,dan berjudi.Kadang suami membuat rumah atau perahu,namun dengan batuan istri.Ada pula suami yang mau menemani istrinya mencari kayu bakar. Sayangnya mereka hanya benar-benar menemani. Mendayung perahu,menebang kayu,dan membawanya pulang adalah tugas istri.Suami yang cukup berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.
Jika istri tidak menyiapkan permintaan suaminya seperti sagu atau ikan,maka istri akan menjadi korban luapan kemarahan.Jika mereka kalah judi,maka istri pula yang akan dijadikan obyek kekesalan. Mereka yang tinggal di Agats,kini terbiasa pula untuk mabuk,mereka lebih rentan untuk mengamuk,sehingga istripun yang akan lebih banyak menerima tindak kekerasan.
Kadangkala laki-laki Asmat mengukir,jika mereka ingin tau atau jika hendak menyelenggarakan pesta. Ketika laki-laki mengukir,maka tugas perempuan akan semakin bertambah. Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir.Semakin lama laki-laki mengukir,semakin banyak pula makanan yang harus mereka sediakan.Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat,karena harus memangur,meramah,dan mengolah sagu,dan bahkan menjaring ikan,lebih tragisnya lagi,jika ukiran itu dijual,maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya,perempuan Asmat tidak menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan itu,satu ukiranpun tidak akan selesai dibuat
Bencana bagi Suku Asmat kurang lebih ada 3,yaitu ;
  • Penyakit Malaria
  • Buaya
  • HIV/AIDS
Setelah virus HIV/AIDS marak di Asmat dan mulai merenggut korban jiwa,semakin bertumpuk daftar persoalan yang harus dihadapi PEMDA dan seluruh masyarakat Asmat. Sebagai sebuah Kabupaten baru yang tengah sibuk-sibuknya melakukan pembenahan infrastruktur dan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka menyelenggarakan sebuah pemerintahan baru,dalam berbagi aspek,berjangkitnya HIV/AIDS ini merupakan sebuah pukulan telak yang bakal menyedot dana,waktu,tenaga,dan pikiran dari segenap komponen masyarakat Asmat,instansi-instansi terkait dalam jajaran pemerintahan Kabupaten Asmat khususnya dan sudah pasti butuh Pemerintah Pusat perlu segera mengambil langkah-langkah penanggulanggannya.
Mitologi
Dalam hal kepercayaan orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, desa Syuru sekarang. Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali; kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patug yang sangat indah serta membuat sebuah genderang em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
Ritual/ Upacara suku Asmat
  • Ritual Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.
  • Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
  • Upacara Bis
Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. 

Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
  • Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.
Penutupan
dengan keberagamanya budaya dan suku adat istiadat yang indonesia miliki seharusnya kita bisa lebih bangga dan bisa mempelajari suku adat istiadat yang ada terutama dengan kebudayaan suku pedalaman contohnya suku asmat.
Suku asmat adalah suku pedalaman yang mana sulit untuk terjangkau dengan tekhnologi pada saat ini. Dan juga suku yang masih sangat menganggungkan budaya nenek moyangnya walaupun sudah masuknya beberapa misionaris dalam sukunya namun mereka masih melestarikan budaya nenek moyang mereka berbeda dengan kebudayaan kota-kota besar lainya yang berbanding sebaliknya, kebudayaan asli mereka luntur dengan masuknya teknologi dan budaya barat yang lebih mereka sukai




DAFTAR PUSTAKA
"Suku asmat'  https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Asmat   ( 4 januari 2016)
“Sistem kepercayaan suku asmat” (november 2011)
puspitasari,wati. (2011) “ Masyarakat dan Kebudayaan “Suku Asmat” di Papua”

Minggu, 03 Januari 2016

tugas-2 solusi unj untuk pariwisata indonesia


             perencanaaan pariwisata dan ekonomi bagi negara
Seiring pertumbuhan pariwisata dan sudah dikembangkanya sebagai industri di setiap negara di dunia. Perhatian pada sektor pariwisata kini sudah semakin lebar hal ini disebabkan karena masyarakat mulai sadar bahwa pariwisata mendatangkan manfaat dan keuntungan ekonomi bagi negara dengan melonjaknya wisatawan-  wisatawan lokal dan mancannegara, dan ini sebagai salah satu jalan keluar dari lesunya perekonomian negara termasuk negara indonesia sendiri.  Namun, disisi negatifnya dengan kemajuan pariwisata berimbas pada beragam permasalah yang sering timbul dalam pariwisata. Sehngga semuanya pun  tak luput pada  pentingnya perencanaan dalam sektor pariwisata.
Pada hakikatnya perencanaan merupakan penentuan suatu tujuan utama beserta cara-cara untuk menentukan tujuan tersebut. Maka dalam Pariwisata sangat dibutuhkan perencanaan untuk mengembangkan suatu obyek wisata. Karena dalam kepariwisataan perencanaan tidak lepas dari segala aspek yang berhubungan dengan pariwisata, dengan demikian perencanaan kepariwisataan mencakup seluruh jaringan yang berkaitan dengan pariwisata yaitu diantarnya adalah : kalangan pemerintah (Vertikal maupun horizontal),   para pelaku usaha pariwisata dan masyarakat umum.
Perencannaan adalah fasilitasi atau advokasi atau intervensi yang bertujuan untuk mengubah proses yang sudah ada. Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam (Riyadi & Dedy supriady; 2004:2) perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan program-program dari beberapa alternative yang ada. Menurut Rose dalam (Tourism Planning; 2002:6) “perencanaan merupakan suatu aktifitas yang multidimensional dan berusaha bersifat integrative. Ini mencakup faktor-faktor social, ekonomi, politik, psikologi, antropologi dan teknik dengan mempertimbangkan masa lalu, sekarang dan yang akan datang”.
Sedangkan unsur-unsur perencanaan adalah meliputi;
1.    Adanya asumsi-asumsi yang didasarkan pada fakta-fakta. Dengan demikian berarti perencanaan yang disusun harus didasarkan pada asumsi-asumsi yang didukung oleh fakta atau bukti yang ada, karena perencanaan merupakan dasar bagi pelaksanaan suatu kegiatan atau aktifitas.
2.    Adanya alternatif-alternatif atau pilihan-pilihan sebagai dasar penentuan kegiatan yang akan dilakukan. Oleh karena itu dalam menyusun rencana perlu memperhatikan berbagai alternatif sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
3.    Adanya tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini perencanaan merupakan suatu alat atau sarana untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan kegiatan.
4.    Bersifat memprediksi sebagai langkah untuk mengantisipasi jika pada saat pelaksanaan rencana akan ada kemungkinan-kemungkinan atau hal-hal yang dapat mempengaruhi pelaksanaan perencanaan.
5.    Adanya kebijaksanaan sebagai hasil keputusan yang harus dilaksanakan
Esensi dari perencanaan adalah:
·         Mengidentifikasi pendekatan alternatif.
·         Membuat sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya
·         Membuat sesuatu harus tepat seperti yang diinginkan.
·         Membuat sesuatu seperti yang sedang berjalan atau berkembang apa adanya.
·         menemukan ketidak tepatan rencana.
·         memepertahankan keunikan.
·         Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan


Mengapa perlu perencanaan pariwisata? perencanaan pariwisata sangat diperlukan baik pada tingkat Internasional, Nasional, Regional, Subregional dan Resort (kawasan, dan tapak), maupun desain dan perencanaan fasilitas, hal ini karena; (1) Fenomena pariwisata makin kompleks dari yang pernah terfikir sebelumnya. (2) Pariwisata berdampak positif dan negatif. (3) Pariwisata makin kompetitif dan promosi destinasi wisata makin gencar. (4) Pariwisata dapat berakibat buruk pada sumberdaya alam dan budaya. (5) Pariwisata dapat mempengaruhi semua orang dalam komunitas tertentu dan semua yang terlibat dalam pariwisata perlu berpartisipasi dalam proses perencanaan pariwisata. (6) Pariwisata memerlukan penanganan secara khusus baik dalam aspek organisasional, marketing, promosi, maupun regulasi.
Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam perencanaan pariwisata adalah terdiri dari:
1.    Atraksi dan kegiatan wisata baik itu alam, budaya maupun fitur khusus lainnya yang menarik wisatawan untuk berkunjung
2.    Akomodasi, sebagai tempat untuk menginap berupa hotel atau bentuk lainnya dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada tamu (wisatawan) selama mereka berada di daerah tujuan wisata.
3.    Fasilitas wisata dan pelayanan lainnya, yang termasuk dalam kelompok ini adalah tour operator, restoran, rumah makan, toko handicraft, cenderamata, bank, tempat penukaran uang, pusat informasi pariwisata, tempat potong rambut dan kecantikan, fasilitas dan pelayanan kesehatan, fasilitas keamanan publik dan pelayanan polisi, pemadam kebakaran dan imigrasi.
4.    Transportasi, sebagai akses ke ODTW (transportasi internasional) dan alat transportasi lokal atau internal yang menghubungkan antara negara asal wisatawan dengan negara tujuan wisata, daerah atau objek wisata satu dengan objek wisata atau daerah tujuan wisata lainnya.
5.    Infrastruktur lainnya, yaitu bentuk pelayanan publik lain yang dapat mendukung pengembangan pariwisata seperti, sarana jalan, bandar udara, pelabuhan laut, terminal bus, stasiun kereta api, suplai air bersih, sarana penerangan, tempat penampungan sampah, telepon, drainase yang baik dsb.
6.    Elemen-elemen Institusi, elemen ini juga memegang peranan penting dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata yaitu program perencanaan, pendidikan dan pelatihan, strategi pemasaran dan program promosi, organisasi pariwisata baik pemerintah maupun swasta, peraturan yang menyangkut pariwisata, kebijakan investasi sektor pemerintah maupun swasta, program kontrol terhadapa dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya.
Selain komponen-komponen utama diatas, faktor lain yang merupakan pendukung komponen tersebut adalah terdiri dari:
1. Lingkungan alam dan sosial ekonomi, ini berhubungan dengan tempat dimana akan direncanakan sebagai objek wisata, resort dsb.
2.    Kelompok wisatawan domestik dan internasional, ini berhubungan dengan segmen pasar.
3.    Masyarakat lokal setempat, keterlibatan mereka dalam perencanaan pariwisata mulai dari tahap pra perencanaan, perencanaan dan operasional.

Pentingnya perencanaan dalam sebuah wisata dikarenakan perencanaan digunakan sebagai pedoman penyelenggara wisata, sebagai sarana untuk memprediksikan kemungkinan timbulnya hal-hal di luar dugaan sekaligus alternatif untuk memecahkanya, sebagai sarana untuk mengarahkan penyelenggaran wisata sehingga dapat mencapai tujuannya, yaitu mewujudkan wisata secara efektif dan efisien, dan sebagai alat ukur tingkat keberhasilan wisata sebagai upaya pengawasan atau evaluasi dalam rangka memberikan umpan balik bagi penyelenggaraan wisata selanjutnya.
Dalam perencanaan pembangunan pariwisata memerlukan berbagai proses tahapan-tahapan yaitu diantaranya adalah :
1)    Persiapan study, adalah awalan bagi badan perencana di bawah pemerintahan daerah memutuskan atau melakukan study dan menyusun acuan kerja atau organisasi.
2)    Penentuan sasaran, merumuskan maksud pokok memrakarsai study, misalnya untuk menunjang pengembangan pariwisata kota dalam rangka meraih manfaat ekonomi (yang terukur) dan lingkungan kota serta manfaat bagi penduduk kota melalui menciptakan lapangan kerja dan memperluas pelayanan bagi penduduk maupun wisatawan.
3)    Sigi semua elemen, menghimpun ragam sumberdaya pariwisata dan perkembangan daerah maupun ekonomi kepariwisataan. Untuk itu perlu dikumpulkan data perihal kebutuhan pariwisata kota ( misalnya : karakteristik wisatawan, pola perjalanana, dan kecenderungannya) dan ketersediaan sumber daya kepariwisataan (misalnya : daya tarik, akomodasi, fasilitas, prasarana, struktur ekonomi pariwisata, dan lingkungan) serta penilaian kemungkinan tentang penanaman modal bagi perkembangan dimasa depan.
4)    Analisis dan sintesis temuan temuan, mengacu pada proses analisis informasi yang diperoleh dari hasil penyigian sebagai dasar perumusan rencana.
5)    Rumusan kebijakan dan rencana,  menyususun draft rencana pengembangan berdasarkan pilihan kebijakan pariwisata.
6)    Dasar pertimbangan usulan,  adalah tahap perencanaan seluruhnya diajukan kepada komisi perencanaan pemerintah daerah untuk dikaji dan memperoleh masukan. Diskusi berlangsung antara penyusun rencana dan komisi perencanaan pemerintah  dapat juga dilakukan konsultasi kepada pihak-pihak lain yang mempunyai perhatin.
7)    Pelaksanaan dan pemantauan rencana,  tahap rencana diwujudkan dalam tindakan, kegagalan baru disadari saat proses berjalan maka dari itu pelu diadakan pemantauan.
8)    Tinjauan berkala , mengacu pada proses pelaporan balik atas kemajuan rencana dan tahap study persiapan sering perlu dilakukan lagi. Kegagalan rencana di tahap ini sering diakibatkan oleh :
a)    Kegagalan membangkitkan minat pengembang.
b)    Ketidak mampuan membuat aturan yang diperlukan untuk proses pengembangan lahan.
c)    Kegagalan koordinasi sector public dan swasta.
d)    Kelangkaan anggaran sector public untuk melaksanakan rencana keseluruhan.
e)    Ketersediaan sarana prasarana angkutan yang tidak memadai.
f)     Ketidak mampuan memahami oposisi masayarakat atas pengembangan pariwisata yang dapat menunda rencana.
9)    Menurut matheusik langkah dalam proses perencanaan sebagai berikut :
Pilih pangsa pasar yang digunakan
·         Pahami kunci komponen kepariwisataaan atau buat peta karakteristik produk.
·         Himpun data produk pariwisata dalam ksetiap komponen factor pariwisata.
·         Alihkan data karakteristik produk pariwisata ke format peta dasar.
·         Bandingkan pangsa pasar dengan potensi-potensi produk pariwisata.
·         Tentukan bobot setiap pangsa produk untuk setiap pangsa pasar.
·         Buat peta gabungan dari setiap pasar produk yang sesuai.
·         Tentukan zona tujuan yang cocok bagi pangsa pasar.
·         Tetapkan gabungan zona destinasi untuk kepentingan kombinasi pasar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat potensi pariwisata, maka yang perlu diperhatikan adalah sarana transportasi, keadaan infrasruktur dan sarana-sarana pariwisata.
     Seperti yang terjadinya dipantai ujung genteng yang mana masih minimnya fasilitas sarana menuju kesana dan juga juga masih minimnya penerangan jalan menuju akses wisata kepantai tersebut, dan juga masih minimnya sarana seperti resort bagi pengunjung yang ingin berlibur dan menikmati pesona di kawasan wisata ujung genteng, sehingga tak ayal ujung genteng lebih sepi dan masih sedikit yang tau bahwa daerah sukabumi memiliki pantai yang indah. dibanding dengan pantai-pantai lainya terutama pantai yang berada dibali yang mana banyak dimasuki industri pariwisata bahkan sudah banyak yang dapat kita temukan yaitu pendirian sejumlah fasilitas mewah, seperti lapangan golf dan hotel . Selain pentingnya sarana dan prasarana yang ada pada suatu destinasi wisata seharusnnya pemerintah pun harus menekankan pentingnya kebijakan dan peraturan yang ada pada tempat wisata, karena sudah banyak sekali yang kita lihat dan temui bahwa sudah banyak  kerusakan dan pencemaran yang terdapat didaerah pariwisata di indonesia, seiring dengan makin meningkatnya kebutuhan akan pariwisata, yang mana Pariwisata merupakan sektor yang interen dengan dikehidupan masyarakat yang modern.
Kebijakan dan perencanaan kepariwisataan seharusnya dapat berfungsi secara efektif sebagai arah pembangunan kepariwisataan suatu destinasi. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak sekali konflik kepentingan di tingkat para pengambil keputusan pada saat mengimplementasikan kebijakan maupun perencanaan kepariwisataan yang sebenarnya sudah disepakati bersama sehingga perkembangan pariwisata tidak lagi mengacu pada kebijakan dan perencanaan yang sudah dibuat.
Maka dari itu dibutuhkanya perancangan fisik lokasi wisata pada suatu daerah yaitu dengan cara ;
-       Zoning lokasi wisata, zoning lokasi wisata merupakan pengelompokan unsur unsur yang mempunyai peran dan fungsi yang sama. Sistem ini akan memberikan pengarahan dalam menentukan telak massa bangunan secara fisik kepad aktifitas berupa zoning rekreasi, zoning penunjang, zoning pelengkap
-       Distirbusi unsur rencana dalam zoning untuk setiap zoning ditempatkan unsur- unsur rencana sebagai berikut;
A.    Zoning rekreasi berupa restoran, playground, panggung terbuka, area piknik, duduk dan bersantai souvenir, jalan setapak, cottage, camping area
B.    Zoning pelayanan berupa warung-warung, kios-kios dan jalur sirkulasi
C.   Zoning pelengkap berupa lapangan olahraga, area kantor, rumah tinggal pegawai area gardu listrik, loket penjualan karcis, menara air dan menara pengawas
-       Pengembangan tata ruang
A pola tapak wisata pulau, pantai atau wisata alam lainya  harus memberian kesan yang bersifat terbuka, kesan yang terbuka ini merupakan cerminan adanya kesatuan pada alam diluarnya
Sifat keterbukaan dapat mencerminkan misalnya pada penentuan garis tapakyang tidak dinyatakan oleh benda masif (tembok) yg menghalangi benda visual. Dan kondisi tempat wisata alam tidak perlu diubah ubah dari bentuk alamiahnya apalagi merusak kesan alamiyahnya dengan penambahan secara buatan
B pola letak massa
 Pengolahan letak massa memiliki aspek diantaranya masuk kedalam  aspek fungsional yang  terdiri dari
1. fasilitas rekreasi.
2. shelter istirahat
3. warung.
4.area perkemahan
  


Adapun  penjelasan mengenai sasaran serta indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan kontribusi ekonomi kepariwisataan Indonesia.
 A.Meningkatnya Kontribusi Kepariwisataan Terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional
Indikator yang digunakan untuk mengukur meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap PDB nasional adalah rasio persentase antara total dampak PDB nominal tahunan yang terbentuk sebagai akibat aktivitaskepariwisataan dibandingkan dengan PDB nominal tahunan nasional.PDBnasional merupakan nilai nominal barang dan jasa yang diproduksi oleh Indonesia selama satu tahun, sedangkan dampak PDB dari sektor kepariwisataan adalah persentase dari total PDB dari seluruh aktivitas ekonomi yang terkait kepariwisataan secara langsung dan tak langsung yang dihitung melalui mekanisme efek pengganda. Kontribusi sektor pariwisata dihitung sebagai persentase dampak PDB kepariwisataan dari PDB nasional. Aktivitas kepariwisataan meliputi pengeluaran wisman, pengeluaran wisnus, investasi pariwisata, pengeluaran wisnas, dan pengeluaran promosi pariwisata.Indikator kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional merupakan dukungan Kemenparekraf terhadap peningkatan laju pertumbuhan ekonomi nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi kontribusi PDB sektor pariwisata, semakin penting pula posisi sektor kepariwisataan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kontribusi ini diupayakan seiring dengan penciptaan lingkungan sosial budayayang berkualitas, penciptaan rekreasi dan pemanfaatan waktu senggang yang berkualitas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui tingkat hidup yang berkualitas. 
1. Pariwisata merupakan sektor yang memberikan dampak yang luas bagi sektor-sektor lainnya, termasuk terhadap penyerapan tenaga kerja baik itu tenaga kerja langsung (direct), tenaga kerja tidak langsung (indirect),maupun tenaga kerja ikutan (induce) di sektor pariwisata.Tenaga kerja langsung mencakup tenaga kerja yang bekerja pada 14 sektor kepariwisataan, tenaga kerja tidak langsung merupakan tenaga kerjadi luar 14 sektor kepariwisataan yang terkait dengan sektor pariwisata,misalnya tenaga kerja pada sektor transportasi, sedangkan tenaga kerjaikutan merupakan tenaga kerja yang terserap di sektor-sektor ikutanakibat pengaruh langsung maupun tidak langsung aktivitas sektor pariwisata.
2.Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerjanasional
Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional merupakan rasio persentase antara dampak pariwisata terhadap penyerapantenaga kerja, dibandingkan dengan jumlah pekerja nasional. Jumlahpekerja nasional adalah jumlah angkatan kerja yang bekerja. Indikator ini merupakan cerminan dukungan Kemenparekraf dalam penciptaanlapangan kerja (penurunan tingkat pengangguran) dan pengurangan kemiskinan nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor kepariwisataan, dimana semakin tinggi nilai kontribusi, maka semakin tinggi pula peran sektor kepariwisataan dalam penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan nasional, serta peningkatan kesejahteraanmasyarakat.
3.Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung,dan ikutan sektor pariwisata
Kualitas dampak sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerjadapat diukur salah satunya berdasarkan produktivitas tenaga kerja langsung,tidak langsung, dan tenaga kerja ikutan sektor pariwisata. Produktivitasyang dimaksudkan merupakan rasio antara dampak upah yang terbentukmelalui mekanisme efek pengganda di seluruh sektor ekonomi yangterkait pariwisata sebagai akibat aktivitas kepariwisataan dibandingkandengan jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan tenaga kerjaikutan sektor pariwisata.
C.Meningkatnya Investasi di Sektor Pariwisata
Pengembangan sektor pariwisata memerlukan investasi yang memadai. Salahsatu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur meningkatnya investasi di sektor pariwisata adalah kontribusi investasi sektor pariwisata terhadaptotal investasi nasional. Kemenparekraf memiliki peran sentral untuk mendorong investasi di sektor pariwisata dengan melakukan: identifikasi dan perancanganprofil investasi destinasi pariwisata,koordinasi dengan instansi pemerintah terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, serta melakukan promosi investasi pariwisata Indonesia. Semakin besar kontribusi investasi sektor pariwisataterhadap total investasi nasional, maka diharapkan tercipta destinasi-destinasipariwisata yang memiliki fasilitas yang baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas perekonomian di destinasi tersebut.




Keliwar,.said.“perencanaan-pariwisata”.  http://keliwarsaid.blogspot.co.id/2013/03/perencanaan-pariwisata.html  
( 25 desember 2015)

Prastyo,adi. “ perencanaan pariwisata”
. ( 28 desember 2015)

Dra.samad,nurul. “rencana pembangunan desa wisata”

herawati,rita “ himpunan peraturan menteri pariwisata”

                                      NAMA : FIRMAN KURNIADI  (4423155510)
                                                                 kelas -B