Tampilkan postingan dengan label Mossad Nico Demus UJP 2015 B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mossad Nico Demus UJP 2015 B. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2016

Solusi UNJ untuk Pariwisata Indonesia

Hubungan dan Permasalahan antara Pariwisata Kebudayaan, dan Bahasa


Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan pariwisata mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia khususnya sebagai penghasil devisa negara di samping sektor migas.

Tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia terlihat dengan jelas dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1969, khususnya Bab II Pasal 3, yang menyebutkan “Usaha-usaha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan “industri pariwisata” dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan serta kesejahtraan masyarakat dan Negara” (Yoeti, 1996: 151).

Berdasarkan Instruksi Presiden tersebut, dikatakan bahwa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah:

(1)Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara dan masyarakat pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja, dan mendorong kegiatan-kegiatan industri penunjang dan industri-industri sampingan lainnya.

(2)Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia.

(3)Meningkatkan persaudaraan/persahabatan nasional dan internasional.

Dalam tujuan di atas, jelas terlihat bahwa industri pariwisata dikembangkan di Indonesia dalam rangka mendatangkan dan meningkatkan devisa negara (state revenue). Dengan kata lain, segala usaha yang berhubungan dengan kepariwisataan merupakan usaha yang bersifat komersial dengan tujuan utama mendatangkan devisa negara.

Di samping itu, pengembangan kepariwisataan juga bertujuan untuk memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia. Ini berarti, pengembangan pariwisata di Indonesia tidak telepas dari potensi yang dimiliki oleh Indonesia untuk mendukung pariwisata tersebut. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat menarik. Keragaman budaya ini dilatari oleh adanya agama, adat istiadat yang unik, dan kesenian yang dimiliki oleh setiap suku yang ada di Indonesia. Di samping itu, alamnya yang indah akan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik itu alam pegunungan (pedesaan), alam bawah laut, maupun pantai.

Kebudayaan Indonesia agar bisa dinikmati sebagai daya tarik bagi wisatawan memerlukan sarana pengungkap. Artinya, agar orang lain memahami kebudayaan Indonesia diperlukan suatu alat pengungkap yang mampu mendeskripsikan kebudayaan itu secara utuh. Alat pengungkap kebudayaan itu tiada lain bahasa, yang dalam hal ini adalah bahasa Indonesia.
Kebudayaan dalam arti luas sebagai hasil cipta karsa dan karya manusia tentu akan terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pesatnya perkembangan pariwisata di Indonesia juga membawa implikasi terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia termasuk perkembangan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkap kebudayaan Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas, dalam tulisan ini akan dikaji hubungan antara pariwisata, kebudayaan, dan bahasa serta permasalahannya. Untuk melengkapi pembahasnnya tersebut digunakan Bali sebagai contoh kasus.

Kursus bahasa inggris jerman jepang mandarin prancis belanda di Language Assistance

II             PARIWISATA, BUDAYA DAN BAHASA

Sebelum membahas pokok permasalahan yang dituangkan dalam pendahuluan di atas, terlebih dahulu akan disajikan beberapa konsep terkait dengan judul di atas yang bertujuan untuk untuk memberikan gambaran tentang variabel-variabel judul di atas, sehingga pada akhirnya diketahui hubungan antara satu variabel dan variabel yang lainnya. Dengan demikiann nantinya akan ditemukan jawaban yang komprehensif untuk menjawab permasalahan di atas.

2.1 Pariwisata
Batasan pariwisata bisa ditinjau dari berbagai sudut pandang. Oleh karena itu, batasan tentang pariwisata belum ada keseragaman tergantung dari sudut pandangnya. Salah satunya adalah yang dikemukan oleh E. Guyer Freuler dalam Yoeti (1996: 115), yang menyatakan:
Pariwisata dalam artian modern adalah merupakan phenomena dari jaman sekarang yang didasarkan di atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat manusia sebagai hasil daripada perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan daripada alat-alat pengangkutan.

Pengertian lainnya tentang pariwisata adalah:
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselnggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha (business) atau untuk mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
(Yoeti, 1996: 118)

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa pariwisata merupakan suatu kegiatan perjalanan yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain untuk sementara waktu dengan tujuan rekreasi dan bukan untuk mencari nafkah. Jadi, tujuan utama perjalanan itu adalah berhubungan dengan pertamasyaan. Di samping itu, dari pengertian itu juga diketahui bahwa orang yang melakukan perjalanan akan memerlukan berbagai barang dan jasa sejak mereka pergi dari tempat asalnya sampai di tempat tujuan dan kembali lagi ke tempat asalnya.
Munculnya produk barang dan jasa ini disebabkan adanya aktivitas rekreasi yang dilakukan oleh wisatawan yang jauh dari tempat tinggalnya. Dalam hal ini mereka membutuhkan pelayanan transportasi, akomodasi, catering, hiburan, dan pelayanan lainnya. Jadi, produk industri pariwisata adalah keseluruhan pelayanan yang diterima oleh wisatawan, mulai meningggalkan tempat tinggalnya (asal wisatawan) sampai pada tujuan (daerah tujuan wisata) dan kembali lagi ke daerah asalnya.

Pariwisata dikatakan sebagai industri, karena di dalamnya terdapat berbagai aktivitas yang bisa menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Akan tetapi, makna industri di sini bukan sebagaimana pengertian industri pada umumnya yaitu adanya pabrik atau mesin-mesin yang besar atau kecil yang penuh dengan asap. Industri pariwisata tidak seperti pengertian industri pada umumnya, sehingga industri pariwisata disebut industri tanpa asap.
Uraian di atas sejalan dengan konsep industri pariwisata yang dikemukakan oleh Yoeti (1996: 153) yang menyatakan: “Industri pariwisata adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama-sama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan traveller pada umumnya, selama dalam perjalannnya”.

Pengertian lain yang sejalan dengan uraian di atas tentang industri pariwisata adalah yang dikemukakan oleh Damardjati yang dikutip oleh Sihite (2000:54). Menurutnya, “industri pariwisata adalah rangkuman dari berbagai macam yang secara bersama-sama menghasilkan produk-produk/jasa-jasa/layanan-layanan atau services, yang nantinya baik secara langsung ataupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama perjalanannya”.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapatlah dikatakan bahwa industri pariwista adalah kumpulan dari bermacam-macam perusahaan yang secara bersama-sama menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan maupun traveller selama dalam perjalanannya.

2.2 Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem komunikasi yang mengikat dan memungkinkan bekerjanya suatu himpunan manusia yang disebut masyarakat. Dengan demikian dapat didefinisikan kebudayaan sebagai “sistem aturan-aturan komunikasi dan interaksi yang memungkinkan suatu masyarakat terjadi, terpelihara, dan dilestarikan”. Kebudayaan itu memberikan arti kepada semua usaha dan gerak-gerik manusia. (Nababan, 1984: 49)
Berdasarkan definisi di atas, jelas sekali terlihat bahwa antara manusia dan kebudayaannya tidak dapat dipisahkan. Demikian juga antara manusia Indonesia dan kebudayaan Indonesia. Hal ini disebabkan manusia Indonesia di samping hidup dalam satu kesatuan wilayah masyarakat etnik, juga hidup dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Dalam kaitan ini, mereka menjunjung kebudayaan yang satu, sesuai dengan konsepsi wawasan nusantara, yaitu kebudayaan nasional Indonesia (Geriya, 1996: 71).

Lebih lanjut dijelaskan secara formal normatif sistem budaya Indonesia menata keseluruhan manusia dan masyarakat Indonesia. Ada dua fungsi sistem budaya Indonesia yang amat penting, yaitu: sebagai pemberi identitas dan sebagai komunikasi yang menyatukan dan mengintegrasikan masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk.

Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai “hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti: kepercayaan, kesenian, dan sebagainya” Misalnya, Kebudayaan Cina, Kebudayaan Indonesia, dan Kebudayaan Jawa. (Poerwadarminta, 1983: 157). Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan hanyalah manusia yang mempunyai kebudayaan. Hal ini disebabkan manusialah makhluk hidup yang mempunyai akal dan budi untuk mengasilkan kebudayaan.

Di samping dua pengertian di atas, pengertian kebudayaan juga dapat dipandang dari sudut Ilmu Antropologi. Dalam hal ini, kebudayaan (budaya) diartikan sebagai “keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan cara belajar dan kesemuanya tersusun dalam kehidupan bermasyarakat”. (Koentjaraninggrat Ed., 1985: 77).

Budaya dalam hal ini dipahami sebagai tingkah laku yang dipelajari dan dilakukan oleh sekelompok orang, budaya diperoleh dari orang lain dengan dipelajari dari masyarakatnya. Kebudayaan itu juga mencakup segala hal yang merupakan hasil cipta, karsa, dan karya manusia dalam usaha meningkatkan taraf hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Sebagai suatu sistem, kebudayaan perlu dilihat dari perwujudan kehidupan manusia yang terkait dengan ide, perilaku, dan materi yang dipengaruhi oleh berbagai aspek.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan yang dimaksudkan dengan kebudayaan adalah suatu hasil cipta karsa, dan karya manusia dalam usaha meningkatkan taraf hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Batasan ini lebih ditekankan pada kenyataan bahwa manusialah yang mampu menghasilkan kebudayaan, karena manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai akal dan budi.


2.3 Bahasa
Bahasa sebagai salah satu unsur kebudayaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa memungkinkan seseorang mengadakan komunikasi dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, dapat dikatakan fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komuniasi. Hal ini tidak berarti bahwa bahasa hanya memiliki satu fungsi. Fungsi yang lain adalah sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, serta sebagai alat untuk mengadakan kontrol sosial. (Keraf, 1980: 3)

Berdasarkan fungsi tersebut, disebutkan juga bahwa “Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbul bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia” (Keraf, 1980: 1). Pendapat senada juga dikemukakan oleh Sitindoan (1984: 17) yang menyatakan “Bahasa adalah lambang yang berupa bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, mempunyai sistem dan mengandung arti yang bersifat arbitrer; dipakai oleh manusia dalam kehidupannya sebagai alat komunikasi antar sesamanya untuk membentuk, mengungkapkan, dan menyampaikan pikiran dan perasaannya. Sifatnya sosial kultural”.

Berdasarkan pengertian-pengertian yang dijelaskan di atas, jelaslah yang dimaksudkan bahasa dalam tulisan ini adalah alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang mempunyai lambang, sistem, arti, serta bersifat arbitrer dan sosial kultural. Setiap bahasa mempunyai lambang. Dengan adanya lambang akan memudahkan terjadinya komunikasi, walaupun tidak langsung berhadapan dengan bendanya. Hal ini disebabkan setiap lambang sudah mengandung suatu konsep atau pengertian. Agar arti lambang-lambang tersebut dipahami, setiap pemakai bahasa harus mengerti dan menuruti sistem bahasa yang digunakan. Sistem bahasa mengandung kaidah atau aturan yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa itu. Apabila tidak dipatuhi, penyampaian informasi akan kacau atau mungkin komunikasi bisa tidak terlaksana.

Bahasa bersifat arbitrer maksudnya tidak ada hubungan secara langsung antara lambang dengan yang dilambangkan. Munculnya pelambangan terhadap suatu benda hanyalah berdasarkan konvensi. Akan tetapi, walaupun demikian untuk dapat mengerti suatu bahasa haruslah dipelajari dan digunakan sebagai alat komunikasi.

Dari paparan di atas dapat dikatakan yang dimaksud dengan bahasa Indonesia di sini adalah bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh penduduk Negara Republik Indonesia baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa resmi. Sebagai bahasa nasional maksudnya bahasa Indonesia diakui dan dipakai secara resmi oleh bangsa Indonesia dalam bidang administrasi, pendidikan, politik, dan bidang kebudayaan dalam arti luas; sebagai bahasa resmi maksudnya bahasa Indonesia dipakai oleh bangsa Indonesia sebagai alat komunikasi resmi dalam situasi yang bersifat resmi: dalam pertemuan resmi, untuk keperluan administrasi negara, pendidikan dan pengajaran, serta pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. (Sitindoan, 1984: 19)



III            HUBUNGAN DAN PERMASALAHAN ANTARA PARIWISATA, KEBUDAYAAN, DAN BAHASA

Perkembangan pariwisata di Indonesia akan berimplikasi terhadap perkembangan kebudayaan nasional Indonesia yang didukung oleh kebudayaan-kebudayaan daerah. Fenomena ini juga akan berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia dan juga sekaligus sebagai sarana pengungkapnya.

3.1 Hubungan Pariwisata dan Kebudayaan
Pariwisata merupakan suatu fenomena yang terdiri dari berbagai aspek, seperti: ekonomi, teknologi, politik, keagamaan, kebudayaan, ekologi, dan pertahanan dan keamanan. Melalui pariwisata berkembang keterbukaan dan komunikasi secara lintas budaya, melalui pariwisata juga berkembang komunikasi yang makin meluas antara komponen-komponen lain dalam kerangka hubungan yang bersifat saling mempengaruhi (Geriya, 1996:38)

Kebudayaan sebagai salah satu aspek dalam pariwisata dapat dijadikan sebagai suatu potensi dalam pengembangan pariwisata itu. Hal ini disebabkan, dalam pengembangan pariwisata pada suatu negara atau suatu daerah sangat terkait dengan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah atau suatu negara. Indonesia, misalnya dengan bermodalkan kekayaan kebudayaan nasional yang dilatari oleh keunikan berbagai kebudayaan daerah bisa menggunakan kebudayaan sebagai salah satu daya tarik wisatawan.

Pengembangan kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan lebih lanjut diistilahkan dengan pariwisata budaya. Dengan kata lain, pariwisata budaya adalah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan (Geriya, 1996: 45). Kebudayaan yang dimaksudkan di sini adalah kebudayaan Indonesia yang dibangun dari berbagai kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Ini artinya, setiap langkah yang dilakukan dalam usaha pengembangan pariwisata di Indonesia selalu bertumpu pada kebudayaan nasional Indonesia. Segala aspek yang berhubungan dengan pariwisata, seperti: promosi, atraksi, manajemen, makanan, cindera mata, hendaknya selalu mendayagunakan potensi-potensi kebudayaan nasional Indonesia. Dengan demikian nantinya pariwisata Indonesia mempunyai ciri tersendiri yang dapat dibedakan dari pariwisata negara lain yang bertumpu pada potensi yang lain.

Uraian di atas menunjukkan betapa eratnya hubungan antara pariwisata dan kebudayaan nasional Indonesia. Pariwisata Indonesia dikembangkan berdasarkan potensi kebudayaan nasional yang ada dan kebudayaan nasional akan berkembang seiring dengan perkembangan pariwisata. Di samping itu, pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dengan konsep pariwisata budaya akan dapat memperkokoh kebudayaan nasional Indonesia.

3.2 Hubungan Kebudayaan dan Bahasa

Kebudayaan dan bahasa mempunyai hubungan yang sangat erat. Kebudayaan dan bahasa dalam hal ini dibatasi pada kebudayaan nasional Indonesia dan bahasa Indonesia. Hubungan di antara keduanya tidak hanya sebatas bahasa Indonesia adalah bagian dari kebudayaan nasional Indonesia, tetapi juga terlihat dari fungsi bahasa sebagai pengungkap, pelestari, dan pewaris budaya bangsa Indonesia.

Bahasa sebagai suatu sistem komunikasi adalah bagian dari sistem kebudayaan. Bahasa terlibat dalam semua aspek kebudayaan, karena kebudayaan manusia tidak akan dapat terjadi tanpa adanya bahasa. Bahasa inilah memungkinkan terbentuknya suatu kebudayaan. Inilah salah satu hubungan antara kebudayaan dan bahasa.

Hubungan kebudayaan dan bahasa yang lainnya adalah bahwa bahasa sebagai suatu sistem komunikasi, akan mempunyai makna hanya dalam kebudayaan yang menjadi wadahnya. Ini artinya untuk bisa mengerti suatu bahasa, setidaknya juga harus paham dengan kebudayaannya. Demikian sebaliknya, untuk memahami kebudayaan suatu daerah atau suatu negara akan lebih sempurna apabila juga memahami bahasanya.

Hubungan antara kebudayaan dan bahasa juga dapat dilihat pada sisi yang lain, yaitu bahasa merupakan kunci bagi pengertian yang mendalam atas suatu kebudayaan. Oleh karena itu, dalam mempelajari suatu kebudayaan diperlukan juga mempelajari bahasanya.

Menurut Nababan (1984: 52) ada dua macam hubungan antara kebudayaan dan bahasa. Kedua hubungan itu adalah (1) bahwa bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan (2) bahwa seseorang belajar kebudayaan melalui bahasanya. Hubungan yang pertama disebut dengan hubungan filogenetik, sedangkan hubungan kedua disebut dengan hubungan ontogenetik. Kedua hubungan antara bahasa dan kebudayaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Filogenetik
(Sistemik)
Ontogenetik
(Belajar)

Dari uraian di atas bahasa secara umum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan. Hal ini juga terjadi antara bahasa Indonesia dan kebudayaan nasional. Artinya, untuk mengetahui kebudayaan nasional dapat dipelajari dari bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai wahana pengungkapnya. Demikian juga sebaliknya mempelajari bahasa Indonesia secara tidak langsung juga mengetahui kebudayaan Indonesia sebagai wadahnya.

Kursus bahasa inggris jerman jepang mandarin prancis belanda di Language Assistance

3.3 Pengaruh Pariwisata terhadap Kebudayaan

Pariwisata sebagai suatu fenomena yang terdiri dari berbagai aspek tentu akan berpengaruh terhadap aspek-aspek tersebut, termasuk kebudayaan yang merupakan salah satu aspek pariwisata. Apalagi pengembangan pariwisata di Indonesia bertumpu pada kebudayaan nasional Indonesia, tentu perkembangan pariwisata akan berdampak bagi kebudayaan nasional Indonesia.

Dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata terhadap kebudayaan tidak terlepas dari pola interaksi di antaranya yang cenderung bersifat dinamika dan positif. Dinamika tersebut berkembang, karena kebudayaan memegang peranan yang penting bagi pembangunan berkelanjutan pariwisata dan sebaliknya pariwisata memberikan peranan dalam merevitalisasi kebudayaan. Ciri positif dinamika tersebut diperlihatkan dengan pola kebudayaan mampu meningkatkan pariwisata dan pariwisata juga mampu memajukan kebudayaan. (Geriya, 1996: 49).

Paparan di atas menandakan perkembangan pariwisata dapat memberikan dampak yang positif terhadap kebudayaan. Di sini akan terjadi akulturasi kebudayaan, karena adanya interaksi masyarakat lokal dengan wisatawan. Di samping itu, kebudayaan-kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia akan terus berkembang. Ini disebabkan oleh adanya wisatawan (orang asing) yang datang berkunjung untuk melihat dan mengenal lebih dekat kebudayaan asli tersebut. Hal ini tentunya juga menyebabkan terjadinya penggalian nilai-nilai budaya asli untuk dikembangkan dan dilestarikan. Dengan demikian pola kebudayaan tradisional seperti tempat-tempat bersejarah, monumen-monumen, kesenian, dan adat istiadat akan tetap terpelihara dan lestari (sustainable).

Dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan seperti disebutkan di atas sejalan dengan pemikiran Sihite (2000: 76) yang menyebutkan secara garis besar dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan dapat dilihat pada hal-hal berikut:

□ Merupakan perangsang dalam usaha pemeliharaan monumen-monumen budaya yang dapat dinikmati oleh penduduk setempat dan wisatawan.

□ Merupakan dorongan dalam usaha melestarikan dan menghidupkan kembali beberapa pola budaya tradisional seperti kesenian, kerajinan tangan, tarian, musik, upacara-upacara adat, dan pakaian.

□Memberingan dorongan untuk memperbaiki lingkungan hidup yang bersih dan menarik.

□Terjadinya tukar-menukar kebudayaan antara wisatawan dan masyarakat lokal. Misalnya, wisatawan dapat lebih banyak mengenal kebudayaan serta lingkungan yang lain dan penduduk lokal juga mengetahui tempat-tempat lain dari cerita wisatawan.

□Mendorong pendidikan di bidang kepariwisataan untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia di bidang kepariwisataan yang handal.

Perkembangan pariwisata yang sangat pesat dan terkosentrasi dapat menimbulkan berbagai dampak. Secara umum dampak yang ditimbulkan adalah dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari pengembangan pariwisata meliputi; (1) memperluas lapangan kerja; (2) bertambahnya kesempatan berusaha; (3) meningkatkan pendapatan; (4) terpeliharanya kebudayaan setempat; (5) dikenalnya kebudayaan setempat oleh wisatawan. Sedangkan dampak negatifnya dari pariwisata tersebut akan menyebabkan; (1) terjadinya tekanan tambahan penduduk akibat pendatang baru dari luar daerah; (2) timbulnya komersialisasi; (3) berkembangnya pola hidup konsumtif; (4) terganggunya lingkungan; (5) semakin terbatasnya lahan pertanian; (6) pencernaan budaya; dan (7) terdesaknya masyarakat setempat (Spillane, 1989:47).

Dampak positif dari kegiatan pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal antara lain; munculnya kreativitas dan inovasi budaya, akulturasi budaya, dan revitalisasi budaya. Sedangkan dampak negatif yang sering dikawatirkan terdapat budaya masyarakat lokal antara lain; proses komodifikasi, peniruan, dan profanisasi (Shaw and Williams, dalam Ardika 2003:25). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dampak pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal sebagaimana tersebut di atas disebabkan oleh tiga hal yakni: (1) masyarakat lokal ingin memberikan hasil karya seni atau kerajinan yang bermutu tinggi kepada pembeli (wisatawan); (2) untuk menjaga citra dan menunjukkan identitas budaya masyarakat lokal kepada dunia luar; (3) masyarakat ingin memperoleh uang akibat meningkatnya komersialisasi (Graburn 2000 dalam Ardika 2003).

Subadra (2006) memberikan batasan yang lebih jelas mengenai dampak sosial-budaya pariwisata. Dampak positif sosial budaya pengembangan pariwisata dapat dilihat dari adanya pelestarian budaya-budaya masyarakat lokal seperti kegiatan keagamaan, adat istiadat, dan tradisi, dan diterimanya pengembangan objek wisata dan kedatangan wisatawan oleh masyarakat lokal. Sedangkan dampak negatif sosial budaya pengembangan pariwisata dilihat dari respon masyarakat lokal terhadap keberadaan pariwisata seperti adanya perselisihan atau konflik kepentingan di antara para stakeholders, kebencian dan penolakan terhadap pengembangan pariwisata, dan munculnya masalah-masalah sosial seperti praktek perjudian, prostitusi dan penyalahgunaan seks (sexual abuse).

Bali sebagai salah satu objek wisata utama di Indonesia merupakan barometer perkembangan pariwisata nasional. Oleh karena itu, Bali memegang peranan yang penting dalam perkembangan pariwisata di Indonesia.

Sebagai daerah tujuan utama bagi wisatawan, tentu Bali tidak terlepas dari dampak pengembangan pariwisata dari segala aspek kehidupan termasuk kebudayaan. Pengembangan pariwisata di Bali yang bertumpu pada kebudayaan Bali yang pada dasarnya bersumber pada agama Hindu, menimbulkan adanya kegairahan penggalian, pemeliharaan, dan pengembangan aspek-aspek kebudayaan terutama kesenian, monumen-monumen peninggalan sejarah, dan adat istiadat. Tentu saja hal ini memberikan efek ganda yaitu bertambahnya pendapatan masyarakat lokal dari kegiatan ini sebagai konsumsi bagi wisatawan dan dapat menjaga kelestarian aspek-aspek kebudayaan itu sendiri. Misalnya, pertunjukan berbagai kesenian untuk wisatawan, adanya museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang juga sebagai daya tarik wisatawan, dan berbagai kegiatan adat istiadat yang bersifat unik.

Adanya dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan menunjukkan adanya keselarasan ungkapan yang mengatakan “Pariwisata untuk Kebudayaan”. Artinya, pengembangan pariwisata benar-benar memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan kebudayaan dalam arti yang luas. Ini artinya, perkembangan pariwisata secara positif dapat memperkokoh kebudayaan Indonesia.
Di samping memberikan dampak yang positif, pengembangan pariwisata juga dapat menimbulkan masalah. Di samping pariwisata dapat mengembangkan dan melestarikan kebudayaan, sering juga terjadi sebaliknya yaitu tereksploitasinya kebudayaan secara berlebihan demi kepentingan pariwisata. Tentu hal ini akan berdampak negatif terhadap perkembangan kebudayaan. Ini sering terjadi akibat adanya komersialisasi kebudayaan dalam pariwisata. Artinya, memfungsikan pola-pola kebudayaan seperti kesenian, tempat-tempat sejarah, adat istiadat, dan monumen-monumen di luar fungsi utamanya demi kepentingan pariwisata. Inilah suatu masalah yang dihadapi sekaligus tantangan dalam pengembangan pariwisata budaya. Hal ini juga dialami oleh Bali sebagai daerah tujuan wisata di Indonesia.

Perkembangan pariwisata memang dapat menumbuhkembangkan aspek-aspek kebudayaan seperti kesenian dan adat istiadat di Bali. Akan tetapi, di balik itu ternyata juga muncul permasalahan akibat terlalu tereksploitasinya aspek-aspek tadi. Misalnya, munculnya berbagai kesenian yang awalnya hanya dipentaskan untuk kepentingan upacara agama, kemudian dipertunjukkan untuk kepentingan wisatawan. Demikian juga dijadikannya tempat suci sebagai objek wisata. Ini merupakan fakta terjadinya komersialisasi budaya dalam pariwisata, karena berubahnya atau bertambahnya fungsi di samping fungsi utamanya.

Di samping terjadinya komersialisasi, tampaknya yang perlu juga menjadi pemikiran kita bersama, yaitu pola pembinaan kebudayaan dalam arti luas sebagai pendukung kepariwisataan. Sudah menjadi kenyataan devisa yang dihasilkan dari pengembangan pariwisata, digunakan oleh negara untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang. Devisa itu dibagi-bagi ke semua aspek pembangunan, sehingga dirasakan sangat kecil kembali pada bidang kebudayaan. Padahal secara nyata kebudayaan itulah sebagai penopang paling besar dalam pariwisata untuk mendatangkan devisa. Oleh karena itu, ada kesan “budaya untuk pariwisata”. Dengan demikian, kebudayaan di sini tereksploitasi secara besar-besar dan hanya digunakan sebagai bahan promosi tanpa adanya usaha untuk menjaga dan melestarikannya. Kini banyak objek wisata yang tidak tertata akibat dana pemeliharaan yang terbatas. Salah satu contoh konkret adalah Museum Subak yang ada di Kabupaten Tabanan, Bali. Museum ini meruapakan aset budaya Bali yang tak ternilai harganya. Sayang, kini museum itu sepertinya hanya tinggal kenangan.


3.4 Pengaruh Perkembangan Pariwisata terhadap Bahasa

Perkembangan pariwisata akan memberikan efek terhadap kehidupan masyarakat setempat. Efek itu mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik itu sosial, ekonomi, budaya, relegi, dan juga lingkungan. Luasnya pengaruh perkembangan pariwisata terhadap aspek kehidupan dapat dikaji secara mandiri. Misalnya, pengaruh terhadap bidang sosial, pengaruh terhadap bidang ekonomi, atau pengaruh terhadap bidang kebudayaan.

Sehubungan dengan hal itu dalam kesempatan ini yang dibahas adalah pengaruh perkembangan pariwisata terhadap Bahasa Indonesia yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia. Pengaruh ini apabila ditinjau dari politik bahasa nasional yang mengatur pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia dapat dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif dan pengaruh yang bersifat negatif.

Pengaruh yang bersifat positif artinya perkembangan pariwisata di Indonesia dapat membantu membina dan mengembangkan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa negara. Pengaruh positif ini dapat dilihat dari data berupa munculnya kata-kata dan istilah yang berhubungan dengan kepariwisataan. Artinya, perkembangan pariwisata sudah nyata dapat memperkaya khasanah perbendaharaan kata dan istilah dalam Bahasa Indonesia.

Berikut ini adalah contoh kata dan istilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia yang berhubungan dengan kepariwisataan, yaitu: agrowisata, apartemen, awak kabin, bandara, bar, bartender, brosur, Usaha Perjalanan Wisata, kargo, souvenir, reservasi, Diparda, destinasi, objek wisata, daerah tujuan wisata, ekowisata, embarkasi, hotel, reservasi, restoran, jasa boga, kepariwisataan, paspor, devisa, visa, pelancong, pramusaji, pramuwisata, prasmanan, bufe, sadar wisata, sapta pesona, tata graha, tour, wisatawan, paket wisata, wisatawan domestik (wisdom), dan wisatawan mancanegara.

Di samping dapat memperkaya khasanah kosa kata dan istilah, dampak positif perkembangan pariwisata terhadap Bahasa Indonesia juga ditemukan dalam fungsi bahasa Indonesia sebagai alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, saat ini sudah banyak buku tentang pariwisata yang disajikan dengan Bahasa Indonesia. Ini artinya, Bahasa Indonesia telah digunakan sebagai sarana dalam mengembangkan ilmu pariwisata. Dengan demikian masyarakat akan lebih mudah memahami pariwisata dan sekaligus membantu memasyarakatkan kepariwisataan di kalangan masyarakat.

Positif dan negatif adalah dua sisi yang tak terpisahkan seperti dua sisi mata uang. Demikian juga dalam pengembangan pariwisata di Indonesia di samping berdampak positif terhadap Bahasa Indonesia juga ada pengaruh negatifnya. Pengaruh negatif yang dimaksudkan di sini lebih ditekankan pada masalah belum maksimalnya fungsi bahasa Indonesia sebagai pengungkap produk-produk industri pariwisata.

Di depan telah disebutkan pengembangan pariwisata berdasarkan kebudayaan mestinya semua aspek kebudayaan termasuk produk yang dihasilkan dari industri pariwisata menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengungkapnya, kecuali produk industri pariwisata yang memang berasal dari luar negeri. Akan tetapi, dalam kenyataannya fenomena ini belum terlaksana secara maksimal. Buktinya, sebagai contoh di Bali banyak komponen industri pariwisata justru menggunakan bahasa asing atau pola penyusunannya adalah pola bahasa asing. Padahal itu adalah produk lokal. Misalnya, nama hotel dan restoran, serta nama produk minuman dan makanan khas Bali.
Data berikut menunjukkan nama hotel dan restoran serta nama produk lainnya yang menggunakan bahasa atau pola bahasa asing.
No.         Pola Bahasa Asing            Pola Bahasa Indonesia
1              Nusa Dua Beach Hotel   Hotel Nusa Dua Beach
2              Jayakarta Hotel Hotel Jakarta
3              Borobudur Hotel              Hotel Borobudur
4              Lotus Restaurant              Restoran Lotus
5              Mamai Restaurant           Restoran Mamai
6              Bali Cofee            Kopi Bali
7              Hot Tea                Teh Panas
8              Bali Arak               Arak Bali

3.5 Pengaruh Kebudayaan terhadap Bahasa

Kebudayaan sebagai hasil cipta, karya, dan karsa manusia tentu terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban manusia. Perkembangan ini sudah pasti diikuti oleh adanya perubahan akibat pergaulan manusia satu dengan yang lainnya dalam suatu tatanan kemasyarakatan. Kontak bahasa akan mengakibatkan adanya kontak budaya demikian juga sebaliknya kontak budaya menyebabkan terjadinya kontak bahasa.

Sehubungan dengan itu, dapat dikemukan sebagai contoh munculnya istilah komputer, kamera, televisi akan diikuti oleh hadirnya produk fisik. Kemudian dari produk fisik ini akan hadir kosa kata dan istilah yang berhubungan dengannya sebagai sarana pengungkapnya. Misalnya, dari istilah komputer muncul istilah terkait seperti disket, printer, monitor, mouse dan yang lain; dari istilah kamera hadir istilah pendukung seperti foto, digital, film; dan dari istilah televisi kemudian lahir istilah lain sebagai pendukung seperti antena, parabola, dan frekuensi (Djajasudarma, 2001).

Munculnya kata dan istilah baru dalam Bahasa Indonesia juga diakibatkan adanya perkembangan kebudayaan nasional yang didukung oleh kebudayaan daerah dengan bahasa daerahnya masing-masing. Artinya, perbendaharaan kosa kata Bahasa Indonesia juga muncul dari bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Misalnya, dalam bidang seni muncul kata barong, reog, gandrung, dan wayang orang.

Semua yang dipaparkan di atas adalah efek positif perkembangan kebudayaan nasional terhadap Bahasa Indonesia. Efek negatifnya justru terlihat pada keterbatasan Bahasa Indonesia untuk mewahanai kebudayaan-kebudayaan yang diserap dari hasil pergaulan masyarakat Indonesia dengan masyarakat internasional. Artinya, ada istilah kebudayaan yang diserap dari luar belum ditemukan padanan yang pas dalam Bahasa Indonesia. Ini akan menimbulkan penggunaan istilah asingnya dalam Bahasa Indonesia. Misalnya istilah flash disk, hard disk yang berkaitan dengan komputer.

Kursus bahasa inggris jerman jepang mandarin prancis belanda di Language Assistance


Rabu, 06 Januari 2016

Tugas-3 Folklore Indonesia

KATA PENGANTAR
Segala ucapan syukur yang terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat serta karunia-Nya kepada kita sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan lancar dan tanpa tekecuali ucapan terima kasih kepada dosen mata kuliah Sejarah Indonesia Drs. M. Shobirienur Rasyid  karena beliau telah memberikan inspirasi dan pengajaran materi Sejarah Indonesia yang maksimal kepada penulis sehingga tugas ini dapat terselesaikan sesuai rencana.
Artikel Folklore ini dibuat dan disusun berdasarkan sumber sekunder dari internet. Penulis berharap semoga artikel ini dapat bermanfaat kepada pembaca dan dapat menjadi pengetahuan baru kepada pembaca.Penulis  menyadari kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan yang tidak disengaja. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca akan penulis terima dengan rasa syukur dan semoga bermanfaat.


                                                                                                Jakarta, 6 Januari 2016
                                                                                                                        




Pendahuluan

Latar Belakang
Karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulisuntuk tujuan esterika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah, baik dalam atau ketigaorang pertama, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkaitdengan waktu mereka (Ilyas 2008:163).Karya sastra bersumber pada kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Peristiwa-periatiwaitu diungkapkan sastrawan secara artistik dan imajinatif berupa penderitaan, pengembiraan, cintakasih, kebencian, keberanian, perjuangan serta segala peristiwa yang dialami manusia. Bahasayang dipakai tidak lugas (apa adanya), tetapi bersifat menyaran, konotatif, banyak terdapatmakna sampingan. Pembaca diharapkan bisa memberikan interprentasinya dalam mencari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga tercapai kepuasan batin (Ilyas 2011:329).Karya sastra terbentuk dari dua unsure yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsurintrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur ekstrinsik adalah unsuryang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi isi karya sastraitu sendiri secara keseluruhan (Darmawati,2002:345).Indonesia merupakan negara yang mempunyai ragam budaya, budaya tersebut selalu diiringidengan mitos-mitos daerah setempat salah satunya adalah cerita rakyat.
Cerita rakyat merupakancerminan tradisi budaya setempat atau cerita masa lampau yang merupakan cirri khas suku bangsa dengan culture yang berbeda dan terkadang dihubungkan dengan legenda atau terjadinya peristiwa alam seperti halnya terbentuknya seperti halnya terbentuknya gunung, danau, danmasih banyak lagi.Salah satunya cerita rakyat yang unik berasal dari daerah Bengkulu, Sumatera Selatan.Sebagian besar cerita ini banyak mengandung unsur kerajaan Hal tersebut dapat di mengertikarena pada latar belakang masyarakat pada cerita tersebut dilahirkan dari keturunan kerajaan.Cerita tersebut memiliki mitos-mitos yang wajib kita ketahui, seperti asal mula Batu Berambai bisa dikatakan memiliki tradisi kebudayaan yang cukup kental. Selain itu, cerita ini pun dapat dikaitkan dengan terbentuknya daerah tersebut.

MITOS RAKYAT BENGKULU
Legenda Rakyat di Indonesia ini begitu banyak sehingga takkan habis untuk selalu diceritakan. Begitu bbanyak pesan moral yang dapat diambil dari berbagai cerita yang ada. Salah satu cerita rakyat yang mengandung pesan moral yang begitu dalam adalah Legenda mengenai Batu Berambai yang berasal dari Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu ini, legenda yang berkisah mengenai sebuah batu berbulu panjang yang menurut legenda merupakan penjelmaan seorang puteri.
                                                                                               
            
Pembahasan
                                                                                  
Batu Berambai adalah sebuah batu berbulu panjang yang terletak di sekitar Tapak Hitam dan Tapak Batu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Menurut Cerita, Batu Berambai tersebut merupakan penjelmaan seorang puteri raja yang bernama Putri Renong Bulan. Mengapa Putri Renong Bulan menjelma menjadi Batu Berambai? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Batu Berambai  berikut ini!
***
Alkisah, di daerah Rejang, Bengkulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Ratu. Dia adalah seorang pemimpin yang berhikmat, adil dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan tersebut berkembang menjadi sebuah kerajaan yang aman dan makmur. Ratu mempunyai seorang putra bernama Raden Serang Irang dan seorang putrid bernama Putri Renong Bulan.
Raden Serang Irang adalah seorang pangeran yang memliki perawakan tampan dan berbudi pekerti luhur. Selain itu, ia juga mahir bermain silat dan menguasai ilmu peperangan. Tidak seorang pun di negeri itu yang mampu mengalahkan kepandaiannya. Sebagai putra tertua, ia senantiasa menjaga dan melindungi adiknya. Siapa pun yang berani menggangu sang adik, maka dia akan membelanya dan melindunginya walaupun nyawa taruhannya.
Sementara itu, Putri Renong Bulan adalah seorang putrid yang cantik jelita nan rupawan. Wajahnya cerah dan berseri-seri memancarkan sinar keanggunan. Rambutnya panjang terurai dan berwarna hitam berkilauan. Senyumannya pun sangat manis dan murah seolah-olah memancarkan sinar kebahagiaan. Selain memiliki kecantikan yang luar biasa, Putri Renong Bulan juga memiliki sifat lemah lembut dan amat pandai menenung. Ia hamper setiap hari nenghabiskan waktunya menenun kain dengan corak yang indah. Dengan segala yang dimiliknya tersebut, maka bukan suatu hal yang mengherankan jika Putri Renong Bulan menjadi kebanggaan keluarga istana.

Suatu hari, ketika Putri Renong Bulan sedang asyik menenung dan Raden Serang Irang sedang berlatih silat, tiba-tiba dipanggil oleh sang ayah untuk menghadap. Keduanya pun menghentikan kegiatan mereka dan segera memenuhi panggilan dari sang ayah.

“Ada apa, Ayah? Kenapa ayah tiba-tiba memanggil kami menghadap?” Tanya Raden Serang Irang penasaran.
Ratu hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih.
“Begini, Putra-Putriku.Umur ayah sudah semakin tua dan tidak lama lagi Ayah akan meninggalkan kalian,” kata Ratu.
“Kenapa Ayah berkata begitu? Bukankah Ayah masih tampak sehat-sehat saja?” Tanya Putri Renong Bulan heran.
“Kamu benar, Putriku. Meskipun Ayah tampak sehat, namun Ayah mempunyai firasat bahwa Ayah tidak akan lama lagi hidup di dunia ini,” ungkap Ratu, “Oleh karena itu, jagalah diri kalian masing-masing!”

Selanjutnya, Ratu berpesan kepada putra-putrinya dengan ungkapan berikut.
“Jika ingin merasakan asin, makanlah garam!Jika ingin merasakan pedas, makanlah cabai!”“Kalau mau terpuji, berkelakuanlah yang baik terhadap sesama!” lanjutnya, “Putraku Serdang,jagalah adikmu baik- baik!”. “Baik, Ayah. Kami akan selalu ingat semua Ayah,” jawab Raden Serdang.

Tak berapa berselang, Ratu meninggal dunia. Seluruh keluarga istana dan rakyat negeri itu berkabung. Semuanya merasa sedih karena kehilangan seorang raja adil dan bijaksana. Namun,kesedihan tersebut tidak berlangsung lama karena tujuh hari setelah Ratu dimakamkan, RadenSerdang Irang dilantik menjadi raja. Ia seorang pemimpin yang adil dan bijaksana mewarisi sifat-sifat kempimpinan ayahnya. Bahkan, sejak menjadi raja, kerajaan tersebut mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ia rajin menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain. Kerajaan pertama yang diajak kerjasama adalah kerajaan Sungai Lemau yang juga dipimpin oleh seorang raja muda. Kedua raja muda itu saling mengunjungi satu sama lain kekerajaan masing-masing.

Suatu hari, ketika berkunjung ke kerajaan Raja Serdang, Raja Sungai Lemau bertemu denganPutri Renong Bulan. Ia terpesona melihat kencatikan dan kemolekan perangai sang Putri. Sejak itulah, Raja Sungai Lemau jatuh hati dan berniat untuk melamar Putri Renong Bulan. Makadisampaikanlah niat itu kepada Raden Serdang.
“Wahai, sahabatku! Bagaimana kalau hubungan persahabatan ini kita lebih dekatkan lagi?” pinta Raja Sungai Lemau.Raja Serdang pun mengerti maksud pertanyaan sahabatnya itu. Namun, ia tidak bisa langsung menjawabnya.
“Maaf, saudaraku. Saya tidak berhak menjawab pertanyaan itu,” ucap Raja Serdang, “Menurut
adat di negeri ini, yang bersangkutanlah yang berhak menjawabnya. Oleh karena itu, saya akan menanyakan hal ini kepada Putri Renong Bulan.
”Saat ditanya, Putri Renong Bulan hanya diam. Hal ini menandakan bahwa sang Putri bersedia menerima lamaran tersebut.

Pada hari yang disepakati, mereka pun ditunangkan. Pernikahan mereka akan dilangsungkan pada bulan depan. Sejak bertunangan dengan sang Putri, Raja Sungai Lemau semakin rajin berkunjung ke kerajaan Raja Serdang.Sementara itu di tempat lain, tersebutlah seorang raja yang bertahta di sebuah kerajaan besar dan megah di Pulau Perca, Aceh. Raja itu sudah lama mendengar mengenai kebesaran dan kemegahan kerajaan Raden Serdang. Tidak hanya itu, kerajaan Raden Serdang juga sudah terkenal memiliki seorang putri yang cantik jelita hingga ke berbagai negeri.Raja Pulau Perca negeri yang mendengar kabar tersebut segera mengirim utusan untuk melamar Putri Renong Bulan bagi putra mahkotanya.

Utusan itu berangkat ke Rejang bersama beberapa pengawal melalui laut dan sungai dengan menggunakan kapal besar. Setiba di istana RajaSerdang, utusan itu segera menyampaikan lamaran putra mahkota kerajaan mereka. Lamaran mereka pun langsung ditolak oleh Raja Serdang karena adiknya telah bertunangan. Rupanya,utusan raja dari Aceh itu tidak rela menerima penolakan tersebut.Mereka tetap memaksa untuk menikahkan sang putri dengan putra mahkota kerajaan mereka.Raja Serdang pun bersi-keras untuk menolak lamaran itu sehingga terjadilah pertempuran sengit antara kedua kerajaan.

Dalam pertempuran tersebut, Raden Serdang memimpin langsung pasukannya dengan gagah berani sehingga pasukan kerajaan dari Aceh tersebut terpukul mundur.Meski demikian, Raden Serdang bersama pasukannya tetap berjaga-jaga.Mereka mendirikan sebuah benteng dari aur (bambu) dan duri yang sangat kokoh mengelilingi kerajaan sehingga sulit ditembus oleh pasukan dari Aceh. Sementara itu, pasukan kerajaan dari Aceh yang terpukul mundur tidak langsung kembali ke negerinya. Mereka tetap berada di atas kapal yang bersandar di pelabuhan. Setelah mengadakan perundingan, mereka mengirim seorang utusan untuk memata-matai Raja Serdang dan pasukannya yang sedang berjaga-jaga di sekitar benteng.
Suatu pagi, seorang perempuan dari kerajaan  Raden Serdang keluar dari benteng hendak mencariikan di sungai. Utusan yang telah menyamar sebagai penduduk setempat segera mencegat  perempuan itu.
.“Maaf, Bu. Bolehkah saya mengganggu sebentar?” sapa utusan itu.
“Ya, silakan! Barangkali ada yang bisa saya bantu,” jawab perempuan itu.
“Sebenarnya, apa yang amat disukai oleh penduduk di sini?” tanya utusan itu.Dengan polosnya, perempuan itu pun menjawab bahwa penduduk Negeri Rejang amat menyukai uang. Setelah itu, perempuan berlalu tanpa merasa curiga sedikit pun. Sementara itu, sang utusan segera kembali ke kapal untuk melapor kepada panglimanya.

Mendengar laporan tersebut, sang panglima segera memerintahkan pasukannya memenuhi aur dan duri dengan uang kertas.Rakyat Raja Serdang yang tergiur melihat melihat uang kertas tersebut beramai-ramai menebang aur sehingga terbukalah benteng yang selama ini sulit ditembus. Melihat hal itu, pasukan dari kerajaan Aceh tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka segera masuk ke dalam istana dan berhasil mengalahkan Raja Serdang dan pasukannya. Raja Serdang pun tewas dalam penyerangan itu, sedangkan Putri Renong Bulan berhasil ditawan. Ia pun meronta-ronta minta dilepaskan saat hendak dibawa naik ke kapal.
“Kakak Serdang, tolong aku!” teriak Putri Renong Bulan memanggil kakaknya.
“Sudahlah, Putri. Tidak akan ada lagi orang yang bisa menolongmu. Kakak dan tunanganmu sudah tewas,” ujar panglima perang Aceh.
“Pasukan! Ayo kembangkan layar kapal, kita segera tinggalkan negeri ini!” seru sang panglima.
Beberapa saat kemudian, kapal itu bergerak meninggalkan pelabuhan. Sang putri hanya bias meratapi nasib yang menimpa kakak dan para kerabatnya. Hatinya sangat sedih dan air matanya terus menetes membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Begitu kapal tersebut sampai dimuara sungai, sang Putri melihat Tapak Hitam dan Tapak Batu yang mengapit muara. Secara diam-diam, ia mendekati bibir kapal.
Rupanya, sang Putri ingin bunuh diri karena putus asa.
“Daripada memberi malu,lebih baik mati bunuh diri,” ucapnya lirih.
Usai berucap demikian, sang Putri kemudian melompat dari kapal dan terjun ke dalam air. Pada saat ia melompat, rambutnya yang panjang tetap terurai. Ajaibnya,tubuh sang Putri perlahan-lahan berubah menjadi batu dengan rambut terurai. Batu penjelmaan Putri Renong Bulan itu kemudian dinamakan Batu Berambai, yang artinya batu berbulu halus dan panjang.